logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 September 2006 NASIONAL
Line

Tidak Punya Duit, Terpaksa Tidur di Bedeng

  • Nasib Tim U-15 Jateng Mengenaskan

JAKARTA- Nasib tim Jateng yang sedang berada di Jakarta untuk mengikuti kompetisi sepak bola tingkat nasional untuk pemain di bawah usia 15 tahun (U-15), sungguh sangat mengenaskan. Mereka bukannya kalah bertanding. Penyebabnya adalah tim masa depan Jateng itu harus tinggal dalam bedeng eks tempat buruh bangunan yang mengerjakan perbaikan Gelora Bung Karno.

Sebanyak 25 pemain, dua ofisial dan delapan orangtua pemain -tiga di antaranya adalah ibu-ibu- rela tinggal bersama di sebuah bedeng sejak Minggu (10/9) lalu. Semua ini dilakukan agar para pemain bisa tetap ikut kompetisi U-15 PSSI yang digelar di lapangan latihan timnas PSSI, kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Ironisnya, bedeng yang ditempati rombongan tim Jateng yang seluruhnya berjumlah 35 orang itu letaknya persis di muka kantor sekretariat PSSI. Letaknya bahkan hanya beberapa meter saja dari tempat parkir mobil-mobil mewah milik pengurus maupun tamu PSSI.

Menurut Kairun, salah satu ofisial yang juga bertindak sebagai manajer tim U-15 Jateng, tinggal di bedeng yang semula ditempati para pekerja yang merenovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) adalah pilihan terakhir.

"Mau tidur di mana lagi? Kami tak punya duit untuk tidur di hotel atau wisma seperti tim-tim lain. Karena anak-anak ingin sekali ikut kompetisi ini, kami tak punya pilihan lain," kata Kairun saat ditemui rombongan wartawan koordinatoriat PSSI, kemarin sore.

Untuk tinggal di bedeng berdinding dan beralas papan itu, mereka juga harus membayar, meski jumlahnya tentu tak sebesar kalau harus menginap di wisma atau hotel. Menurut Kairun, setelah negosiasi dengan

penanggung jawab bedeng, mereka harus membayar Rp 700.000. Mereka boleh tinggal di situ sampai akhir masa kompetisi. "Itu untuk sekadar ganti biaya listrik dan air," kata Kairun.

Urunan

Untuk keperluan makan sehari-hari, mereka bisa memenuhinya dari warung nasi sederhana yang memang sudah ada sejak renovasi SUGBK dimulai setahun silam.

"Untuk jatah makan anak-anak itu Rp.20.000/hari/orang," kata Kairun. Di luar itu, tiga ibu dari orangtua para pemain kemarin siang berininsiatif untuk memasak bubur kacang hijau. Rombongan Jateng ini tinggal bersama di sebuah bedeng dengan tiga ruangan. Satu ruangan khusus ditempati oleh tiga ibu.

Satu ruangan lagi untuk dua ofisial dan enam orangtua laki-laki. Sisa 25 orang lainnya, yakni para pemain, berada dalam satu ruangan tersisa. Bisa dibayangkan bagaimana situasinya kalau malam hari, ketika anak-anak yang masih belia itu bersiap tidur..

"Sebelum berangkat ke Jakarta kami sudah berusaha mencari dana ke mana-mana. Dari sekian banyak proposal permintaan dana yang kami sebarkan, ternyata hanya satu yang menghasilkan, yakni dari KONI Jateng. Meski tidak banyak, hanya Rp 1 juta, tetapi syukur masih dapat," kata Kairun.

PSSI Jateng mengatakan tidak ada dana. Jadi, untuk tetap bisa berangkat ke Jakarta dan mengikuti kompetisi U-15 PSSI itu, Kairun terpaksa meminta kerelaan para orangtua pemain untuk bersama-sama menanggungnya. Untungnya, orangtua para pemain setuju, meski sebagian besar harus kelimpungan dan mencari pinjaman ke sanak keluarga atau kerabat.

"Masing-masing orang tua pemain membayar Rp 1.200.000," papar Kairun. Setelah dana terkumpul, mereka akhirnya memutuskan tetap berangkat ke Jakarta, walau masih dibayang-bayangi ketidaktahuan akan menginap di mana.

"Dari Semarang, rombongan kami berangkat naik bus Sabtu malam dan sampai ke Jakarta Minggu pagi. Biaya naik bus sudah menghabiskan dana Rp 7.800.000," cerita Kairun.

Niat dan tekad besar itu juga mungkin dimiliki oleh para pemain dari tim lain, yang tampil di babak penyisihan babak II kompetisi Liga Remaja PSSI U-15 untuk Grup IV dan VI ini. Yang membedakannya adalah besarnya dana yang menjadi bekal masing-masing tim.

Tidak seperti Jateng, tim peserta lainnya tinggal di hotel atau wisma. Sebagai contoh, tim DIY yang tetangga terdekat mereka, tinggal di Guest-House Danisa di kawasan Tebet, sementara tim DKI Jaya dan Sulsel menginap di Graha Wisata, Kuningan.

Empat tim itu, yakni Jateng, DKI Jaya, Sulsel dan DIY di kompetisi U-15 ini berada dalam satu grup. Dua tim peserta lainnya yang berada di Grup VI, yakni Gorontalo dan Kalteng, juga menginap di tempat yang lebih representatif.

Gorontalo tinggal di mess Pemda Gorontalo. Sedangkan tim Kalteng di Hotel Calista, Petamburan.

Menurut keterangan Subardi, Ketua Bidang Pembinaan PSSI, minat daerah untuk mengikuti kompetisi Liga Remaja, baik untuk U-18 atau U-15 sangat besar.

"PSSI sebenarnya tak punya uang untuk menggelar kompetisi ini, sementara sponsor juga tidak ada yang berminat. Tetapi itulah, dengan segala kekurangan, kita harus tetap melaksanakan kompetisi," katanya. Liga Remaja U-15 akan dimulai Selasa (12/9) ini.

Kairun sendiri sejak awal memahami kalau untuk mengikuti kompetisi ini PSSI tak memberi subsidi. Karena itulah dia dan ofisial lainnya berusaha mencari dana ke sana-kemari, meski yang didapat masih di luar harapan.

Walau begitu, dia sangat yakin, para pemainya tetap memiliki semangat dan motivasi tinggi untuk memperoleh hasil terbaik. "Kami besok (maksudnya Selasa ini-red) baru bertanding, lawan tim DIY, setelah itu lawan DKI dan terakhir lawan Sulsel," papar Kairun. (wgm,D3-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA