logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 September 2006 SEMARANG
Line

Cari Ikan dengan Racun, Didenda

KERUSAKAN ekosistem di daerah Kendal yang ditimbulkan ulah manusia cukup mengkhawatirkan. Di sisi lain, baik pemkab maupun DPRD dinilai masih relatif rendah dalam upaya ikut menjaga dan menyelamatkan ekosistem tersebut lewat kebijakan yang diturunkan.

Demikian dikemukakan Ketua Komisi D DPRD Kendal, H Hasanuddin SE MSi. ''Perusakan ekosistem antara lain bisa diketahui saat mencari ikan di sungai dengan cara menggunakan racun, bahan peledak, dan aliran listrik. Contoh lain adalah memburu ular, biawak, dan burung. Jika kegiatan-kegiatan itu dibiarkan terus berlangsung, dampak negatif akan kita rasakan,'' tutur Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD itu.

Putra daerah Kendal kelahiran 17 Juni 1953 tersebut menuturkan, tanpa disadari dampak negatif bahkan telah memengaruhi keseimbangan ekosistem. ''Kita semakin sulit untuk menggantungkan hidup dengan mencari ikan di sungai. Hama tikus di sawah merajalela, karena predator alami seperti burung hantu dan ular menyusut diburu manusia.''

Untuk meminimalisasi adanya perusakan itu, ungkap ayah dari tiga anak itu, perlu segera diterbitkan kebijakan yang berpihak pada penyelamatan lingkungan. ''Selama ini kami menilai pemkab dan DPRD terfokus pada pembangunan infrastruktur di daerahnya. Namun cenderung melalaikan penyelamatan ekosistem. Kami mendesak agar kebijakan dalam upaya penyelamatan lingkungan juga dipikirkan. Kita telah memiliki undang-undang lingkungan hidup, untuk lebih dioptimalisasi melalui kebijakan perda lingkungan hidup.''

Sanksi

Lulusan program S1 Universitas Terbuka (UT) itu menguraikan, dalam perda tersebut antara lain berisi sanksi-sanksi tegas bagi pelaku perusakan lingkungan. ''Jika seorang pencari ikan menggunakan bahan berbahaya, seperti peledak, racun, atau listrik akan dikenai denda uang. Bahkan di beberapa kabupaten lain, mereka yang terbukti melakukan pelanggaran itu diwajibkan mengganti sejumlah bibit ikan dan ancaman kurungan. Demikian pula dengan aktivitas perburuan burung di alam bebas, menggunakan senapan angin,'' paparnya.

Sejauh ini, ujar suami Anik Kasiyani (46) tersebut, beberapa daerah lain sudah menerapkan kebijakan penyelamatan lingkungan hidup. ''Apabila daerah Kendal tidak segera mengikuti hal itu, akan timbul ketimpangan. Contoh pemburu dari daerah lain akan berdatangan ke daerah kita. Dari sini, kami berencana untuk mengangendakan kajian persoalan itu dengan teman-teman di Komisi D,'' tambah mantan Kades Sukorejo itu. (Setyo Sri Mardiko-16s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA