logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 September 2006 EKONOMI
Line

Beras Impor

Dikhawatirkan, Jumlahnya Terus Melonjak

DEMAK- Jumlah beras impor yang terus menunjukkan adanya kecenderungan meningkat dikhawatirkan akan menyebabkan harga gabah semakin anjlok. Pada Januari 2006, Pemerintah telah mengimpor beras sebanyak 115 ribu ton. Sedangkan pada Oktober nanti, rencananya jumlah tersebut akan bertambah sebanyak 210 ton. Oleh karenanya, dalam rentang waktu 10 bulan terakhir, beras impor menjadi 325 ribu ton.

Demikian diungkapkan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih, seusai mengadakan pertemuan dengan Bupati Demak Tafta Zani di Pendapa Kabupaten Senin (11/9). Sebelumnya, ia melakukan survei ke Pasar Induk Beras Dargo Semarang, lahan pertanian di Geneng Mijen dan perusahaan penggilingan padi di Bolo Jebor Demak. Survei tersebut dilakukan bersama rombongan Perum Bulog Divre Jateng yang dipimpin Kadivre Hanung Maruto.

Lebih lanjut, Bungaran menyatakan sikapnya untuk tidak menyalahkan pemerintah terhadap kebijakan mengimpor beras. Lantaran, kebijakan tersebut dilaksanakan juga berdasar data-data. Namun, ia berharap tahun 2007 mendatang, pemerintah sanggup untuk menghentikan impor komoditi itu.

''Apa boleh buat bila pemerintah mengemukakan alasan darurat untuk mengimpor beras. Tapi, kebijakan seperti itu tidak boleh terus berlangsung dan tahun depan jangan dilakukan lagi," katanya. Selain itu, ia juga berharap agar distribusi beras impor tidak sampai ke daerah surplus produksi beras.

Dalam pengamatannya, stok beras Demak terbilang surplus hingga mencapai 300 ribu ton per tahun. Meski kekurangan air di musim kemarau ini, Demak tidak ada masalah dengan produksi beras.

Para petani yang ditemuinya menyatakan keinginannya agar pemerintah memedulikan keberadaan petani. Saat ini harga beras dalam kondisi bagus. Petani bisa menjual di atas pembelian harga yang ditetapkan pemerintah, yakni sebesar Rp 3.350/kg. Mereka khawatir bila ada beras impor, harganya akan anjlok dan tidak terbeli.

Saliyo, petani Geneng Mijen, mengatakan hasil padi di sawah seluas 0,25 hektar yang ia garap mampu menghasilkan beras yang mampu dikonsumsi selama satu tahun. Namun, karena harus mencukupi kebutuhan sehari-hari maka beras produksiya ia jual kepada pedagang besar.

''Musim kemarau saat ini sudah tidak ada produksi padi lagi karena sawahnya tadah hujan. Untuk menanam palawija pun sulit karena puso. Sehingga hasilnya tidak besar,'' paparnya. (H22-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA