| Selasa, 12 September 2006 | BUDAYA |
Enthus Makin "Edan"Wayang konvensional tak mengenal tokoh Pardi atau Siyem dalam lakon Aswatama Nglandhak. Namun di tangan dalang bengal asal Tegal, Ki Enthus Susmono, kedua tokoh itu bisa saja hadir. Bahkan tak tanggung-tanggung. Mereka muncul bersama Parikesit yang jadi tokoh sentral. Ya, ya, agaknya Enthus makin edan saja menafsir kembali pertunjukan wayang, termasuk dalam sanggit lakon. Setidaknya itulah yang terlihat saat dia jadi dalang dalam pementasan di halaman Balai Kota Surakarta, Kamis (8/9) malam. Pementasan lakon episode akhir Baratayudha Jayabinangun itu memang tak sekadar pemungkas acara Bengawan Solo Festival. Juga bukan sekadar pemaknaan hitam-putih lazimnya nilai-nilai kemanusiaan dalam lakon wayang. Lebih dari itu, sebagaimana tuntutan proses berkesenian, dia juga menghadirkan kreativitas dalam menyikapi kebaruan karya. Tak ayal, pertunjukan wayang pun menjadi sedemikian menarik ketika disajikan dengan teknik atau cara berbeda, tanpa mengurangi keindahan. ''Jika tak ingin terkubur zaman, wayang harus terus berkembang seperti seni lain. Itu cara mendekatkan wayang ke masyarakatnya,'' ujar Enthus. Instalasi Ulah dan olah seni dalang kelahiran Tegal, 21 Juni 1966, itu memang membuat pakeliran tersebut begitu dekat dengan penonton. Itu pula yang dia gapai melalui kreativitas, baik dalam sanggit lakon maupun penataan unsur lain. Kemunculan tokoh Pardi dan Siyem pada adegan pertama adalah salah satu contoh. Lewat kedua tokoh itu, dia lebih bebas membuat lakon tersebut bertaut erat dengan kondisi sosial sekarang ini. Misalnya, soal kemahalan biaya pendidikan atau bikrokrasi yang masih terus dilekati budaya korup. Dia juga menghadirkan wayang baru, wayang rai wong. Tak pelak pula, dia membuat para penikmat lebih mudah menghafal sang tokoh. Sebab, wayang dengan garis dan tekstur yang menyerupai wajah manusia itu membuat perbedaan karakter lebih tegas dan jelas. Itulah antara lain keedanan kreatif Enthus. Dalang berambut gondrong itu seolah tak kehabisan gagasan. Termasuk, saat dia menggunakan tatanan simpingan yang lebih menyerupai instalasi dalam seni rupa. Dan, pemanggungan pun menjadi berbeda. Penjelajahan di dunia wayang itu bukan tanpa konsekuensi. Karena wayang masih lekat dengan nilai tradisi, dia terkadang acap dipandang sebagai "anak bengal". Namun, itulah anehnya, para pencinta wayang justru senantiasa menunggu-nunggu garapan barunya. Garapan baru yang mungkin makin menakjubkan. (Wisnu Kisawa-53) |