logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 September 2006 BANYUMAS
Line

Ketika Hiu, Katak, dan Becak Terbang di Udara

  • Dari Festival Layang-layang Cilacap

SEORANG anak tampak mendongakan kepala. Matanya bergerak ke kanan kiri mengikuti gerak layang-layang berbentuk makhluk berwarna merah yang dengan liar berputar di udara. ''Pak, itu kan musuhnya Spiderman. Kok warnanya ngak hijau,'' kata si anak kepada seorang lelaki di sebelahnya.

Si Bapak tampaknya bingung menjawab pertanyaan anaknya. Bisa jadi memang dia tidak pernah menonton film ''Spiderman'', bisa jadi pula memang yang diterbangkan itu bukan sosok musuh sang super hero itu.

''Apa iya? Bukan. Itu kan kelelawar besar, bukan musuh Spiderman,'' jawab lelaki itu akhirnya. Sungguh festival layang-layang yang diselenggarakan di Teluk Penyu Sabtu sampai Minggu kemarin menjadi surga mereka pecinta layang-layang, termasuk anak-bapak tadi. Mereka bisa menikmati pintarnya pecipta layangan.

Bagaimana tidak pintar, jika ada sebuah becak berukuran besar dan tiga dimensi bisa terbang dengan ketenangan luar biasa. Belum lagi ikan hiu yang ukurannya hampir menyerupai aslinya yang terbang dengan mulut menganga seakan mencari mangsa.

''Kok bisa ya layangan sebesar itu terbang. Mesti pembuatnya orang berpengalaman,'' gumam pengunjung lain. Hal yang lebih mengagumkan lagi adalah munculnya sebuah layangan naga (liong) yang dengan sangat lincah bergerak ke sana kemari seiring hembusan angin Teluk Penyu. Liukan tubuhnya benar-benar hidup menyerupai liukan naga yang sering dimainkan dalam perayaan Imlek.

Tidak hanya layangan berbentuk binatang dan mahluk aneh, selain becak alat transportasi lain yang dirupakan dalam bentuk layangan adalah sepeda motor dan kapal. Sama seperti jenis lainnya, layangan bentuk ini pun bisa dengan mudah melejit ke angkasa dan kemudian mengambang dengan tenang.

''Festival ini merupakan agenda tahunan. Penyelenggaranya diparta bekerja sama dengan Budi Utomo Kite Club Cilacap,'' kata kepala Dinas Pariwisata Cilacap, Budi Sulistyawan, yang ditemui dengan tengah-tengah festifval.

Ketujuh

Menurut Budi, festival kali ini merupakan festival ke tujuh tingkat nasional. Namun meski kelas nasional, panitia memperbolehkan peserta lokal untuk ikut dalam kelas yang mereka sediakan.

''Untuk tingkat lokal dibagi dua kelas yaitu kelas tradisional sendaren dan kelas kreasi umum. Sementara untuk nasional kami bagi tiga, kelas tradisional sendaren, kreasi umum dua dimensi dan tiga dimensi,'' papar Budi.

Masing-masing kelas memiliki standar nilai sendiri. Selain menariknya warna dan bentuk layangan, secara umum munculnya kreativitas pencipta menentukan menang tidaknya layangan yang mereka terbangkan.

Hadir dalam acara itu palayang tamu dari Malaysia. Mereka menerbangkan layang bernama Delta Fantasy dan layang-layan Lolipop Drop. Layang-layang jenis terakhir merupakan layang-layang biasa namun dalam satu kesempatan dari perut layangan tersebut, di tengah putaran cepat yang dilakukannya, dari perut layangan tersebut keluar ''anak'' layangan yang jumlahnya puluhan.

Setelah melayang beberapa saat layangan ''anak'' tersebut kemudian jatuh dan menjadi rebutan. Usut punya usut di ''anak'' layangan itu ternyata menempel nomor yang merupakan nomor doorprize bagi pengunjung. Tidak heran jika kemudian menjadi rebutan.

Jumlah pecinta layang-layang yang datang untuk menonton pun tidak tanggung-tanggung, mencapai angka 15.000 orang. Mereka dengan tekun menikmati festival, mengamati layang-layang yang terbang maupun yang masih di darat. (Mohamad Sobirin-36)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA