logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 08 September 2006 NASIONAL
Line

Desertir Polri yang Melatih Laskar MMI (1)

Tak Mau Gaji dan Berharap Dipecat

Salah seorang bintara Polri desersi yang saat ini sedang ditangani Bid Propam Polda Jateng adalah Suprianto warga RT 1 RW 1, Karangduren, Sawit, Boyolali. Selain desersi, dia diperiksa karena diduga terlibat latihan militer Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Seperti apa sosok Supri bagi orang-orang terdekatnya? Berikut laporannya.

BERITA penangkapan Suprianto, bintara berpangkat Brigadir yang terakhir berdinas di Polwil Surakarta, Senin petang (4/9), menghiasi media. Sosoknya mengundang tanya, karena selain desersi, pria kelahiran Semarang 25 April 1971 itu memilih bergabung dengan Laskar Mujahidin Lajnah Perwakilan Daerah Majelis Mujahidin Indonesia Surakarta.

''Itu sudah pilihan hidup, suami saya tidak mau terus-terusan berdekatan dengan dosa, masak kalau ketangkap razia hanya menunjukkan kartu anggota polisi sedang lainnya ditilang,'' ujar seorang wanita yang menggendong bocah laki-laki mungil dengan sehelai selendang di halaman belakang Mapolwil Surakarta Jl Slamet Riyadi, Selasa pagi (5/9).

Di dekatnya seorang bocah laki-laki riang bermain. Sesekali dia dihibur beberapa pemuda bercambang anggota Laskar Mujahidin Surakarta yang mendampinginya. Wanita berjilbab itu tak lain adalah Retno Sundari AMd, istri Suprianto yang datang ke Mapolwil untuk menanyakan keberadaan suaminya.

Bocah empat bulan yang ada digendongan bernama Saif dan yang riang bermain adalah anak pertamanya yakni Nida' (4). Bagi wanita berkulit bersih itu, pilihan suaminya terjun ke dunia laskar sepertinya bukan hal yang perlu disesali. Bahkan dia sadar atas konsekuensi pilihan suaminya.

Termasuk jika Supri disel atau bahkan dipecat dari kesatuannya. Dia mengatakan, sejak pernikahannya dengan Supri tahun 2002, suami yang dikenalnya sama seperti polisi kebanyakan. Bahkan pada awalnya sosok Supri merupakan polisi yang sering bergelut dengan dunia hitam.

Berubah

Dia tidak menduga, jika sosok itu akan berubah setahun kemudian. Siapa yang membuatnya berubah, dia juga tidak tahu. Saat pengasuh Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Abu Bakar Ba'asyir hendak ditangkap, suaminya mulai malas didinaskan untuk memantau perawatan ulama itu di RS PKU Muhammadiyah.

Semenjak itu, tingkahnya berubah drastis. Suaminya mulai malas berdinas meski sudah memiliki seorang anak. Kesehariannya hanya ke luar rumah. Ada dugaan dia mulai bergabung dengan Laskar MMI. ''Tapi saya anggap suami saya itu mendapat hidayah, bahkan setiap HUT Bhayangkara selalu berharap dipecat, tetapi tidak pernah ada pemecatan,'' katanya santai.

Tingkah suaminya itu tidak membuatnya kaget meski keluarga menganggap suaminya tak wajar. Untuk menyambung hidup selama mangkir dinas, Supri kadang bekerja serabutan sebagai sopir, kuli atau membantunya berbisnis ponsel. Maklum, selama lebih dua tahun, gaji sebagai anggota Polri juga tidak lagi diambil. Tidak punya rumah, mereka ndompleng di rumah ayahnya di Kandangsapi, Jebres. (Achmad Hussain, Budi Santoso-23v).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA