logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 September 2006 WACANA
Line

Islam, Manusia, dan Pendidikan

  • Oleh Abdul Choliq Dahlan

SEJATINYA pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan, mendewasakan, membebaskan, dan memanusiakan manusia. Manusia harus dibuat cerdas dengan pendidikan untuk mempersiapkan sumber daya menghadapi persaingan di era globalisasi. Sayangnya tak jarang pendidikan justru rnenjadi lahan bisnis bagi pihak-pihak yang hanya ingin mengeruk keuntungan di tengah kondisi pendidikan kita yang semakin carut-marut.

Idealnya lembaga pendidikan mempersiapkan agar generasi mendatang menjadi matang dan siap, dibekali ilmu pengetahuan serta keterampilan dan kemampuan jiwa maupun jasmani, guna melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia, baik secara material, moral, maupun spiritual.

Dalam pandangan Driyarkara (1980), pendidikan dimaksudkan sebagai pemanusiaan manusia. Karena itu pendidikan harus membantu manusia agar secara sadar dan sengaja, bertindak sebagai manusia yang tidak hanya memperturutkan insting, tetapi mampu menggunakan nalar dan pertimbangan moral secara proporsional.

Selain itu pendidikan hendaknya juga dipahami sebagai upaya humanisasi, agar seluruh sikap dan tindakan serta pelbagai kegiatan manusia terdidik benar-benar manusiawi dan semakin memanusiawi. Dengan kata lain pendidikan dimaksudkan untuk mengembangkan manusia agar menjadi makhluk yang memiliki cipta, karya, dan rasa yang manusiawi.

Menjelang dilaksanakannya Munas Persatuan Tarbiyah Islamiyah Republik Indonesia (7-10 September 06) di Jakarta, penulis menganggap perlunya pengintegrasian nilai-nilai Islam dalam pendidikan di Indonesia.

Gagasan itu berangkat dari asumsi bahwa masyarakat Muslim saat ini menghadapi pelbagai tantangan sosial yang dimunculkan oleh pelbagai kekuatan dan arus budaya modern yang diadopsi dari Barat.

Kekuatan media massa, kehadiran senjata, alkohol, banyaknya kasus kehamilan di luar nikah, pelacuran anak-anak usia remaja; dan atmosfer masyarakat yang tidak mengalami bimbingan dan konseling berdasarkan nilai-nilai luhur agama semuanya menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam di Indonesia yang harus dihadapi secara serius.

Kekuatan dan pengaruh yang berasal dari luar ini telah membuat tugas menciptakan keluarga yang sakinah, mendidik anak-anak yang saleh dan salehah, serta memberi dukungan dan bantuan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan menjadi semakin penting.

Di sisi lain Allah telah menyediakan alat yang dapat kita gunakan untuk menyelesaikan pelbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat sekarang ini, dengan menggunakan tuntunan Alquran dan Sunnah Rasul.

Selain itu bimbingan dan konseling dalam Islam menekankan pentingnya penyelesaian spiritual, yang didasarkan pada kecintaan dan ketakwaan kepada Allah dan kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab kita sebagai hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi ini.

Prinsip dalam bimbingan dan konseling Islami adalah sebagai berikut: menjaga kerahasiaan klien, kepercayaan, penghormatan, mengakui perbedaan antarmanusia, mencintai sesuatu yang baik bagi orang lain, menciptakan perdamaian antarsesama, peduli dengan masalah-masalah kaum muslim, kebiasaan mendengarkan yang baik, memahami budaya-budaya orang lain, kemitraan, kesadaran hukum, dan tujuan tertinggi untuk membuat manusia mendekatkan diri pada Allah dan menawarkan pelbagai pemecahan spiritual atas persoalan yang dihadapi manusia.

Oleh karenanya dibutuhkan perubahan sikap baik di kalangan para guru maupun siswa agar dapat menjalin hubungan yang lebih komunikatif, terbuka, dan personal. Dalam hal ini, dialog atau komunikasi dua-arah sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan sikap saling percaya dan saling pengertian.

Sekolah tidak boleh lagi menerapkan sistem pendidikan yang hanya memperlakukan siswa atau peserta didik sebagai objek, sebagai target untuk penyampaian dan pemindahan pengetahuan yang sering kali diabaikan siswa kejiwaannya.

Butuh Dialog

Dalam konteks ini dialog dapat dipandang sebagai bentuk perjumpaan di antara sesama manusia, dengan perantaraan dunia, dalam rangka menamai dunia, untuk membangun kehidupan bersama yang lebih konstruktif, dinamis, kreatif dan sejahtera.

Dengan demikian dialog tidak akan dapat terjadi antara orang yang memang tidak membutuhkan penamaan itu-yakni antara mereka yang menolak hak orang lain untuk mengatakan kata-katanya sendiri dengan mereka yang haknya untuk mengatakan kata-kata sendiri tidak diakui (Paulo Freire, 1995).

Bentuk dialog yang bebas mungkin merupakan salah satu cara paling efektif untuk memahami krisis yang dihadapi masyarakat sekarang ini, dan sejatinya dihadapi oleh seluruh manusia dan kesadarannya. Lebih jauh, dialog mungkin dapat menghasilkan sebentuk pertukaran pelbagai gagasan dan informasi secara bebas yang memiliki relevansi fundamental bagi upaya transformasi budaya dan membebaskannya dari misinformasi yang destruktif, sehingga kreativitas dapat dibebaskan.

Karenanya, sudah saatnya pendidikan mengedepankan aspek dialog untuk dapat menghargai sisi kemanusiaan siswa dan mengembangkannya hingga melahirkan sikap dan tindakan yang juga manusiawi dan memanusiakan.

Kreativitas dan inovasi akan lahir dari kebebasan, dan kebebasan hanya akan diperoleh setelah manusia diperlakukan sebagai manusia, sebagai subyek yang dapat menyuarakan pikiran dan perasaannya tanpa ketakutan.

Melalui Munas tersebut, Persatuan Tarbiyah Islamiyah berharap agar masyarakat kita, utamanya mereka yang terkait langsung dengan kebijakan dan pelaksanaan pendidikan di negeri kita, lebih arif dan apresiatif dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan pendidikan dan lebih memperlakukan peserta didik secara lebih manusiawi.

Dialog dan diskusi tentang bagaimana bentuk dan metode pendidikan yang tepat masih sangat terbuka untuk dilakukan mengingat perkembangan masyarakat yang tidak akan pernah berhenti. Karenanya, yang dibutuhkan dalam pendidikan kita saat ini adalah kreativitas dan kearifan dalam menyikapi setiap perubahan yang terjadi.

Perubahan bukanlah ancaman yang harus dihindari dan ditakuti, tetapi merupakan tantangan yang harus dijawab dengan mengubah pola-pikir kita sesuai dengan realitas yang kita hadapi. Keengganan untuk mengubah pola-pikir hanya akan menjebak kita pada dogmatisme dan absolutisme yang tidak sehat bagi pengembangan dan kemajuan dunia pendidikan kita. (11)

--- DR H Abdul Choliq Dahlan MA, ketua umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah Jawa Tengah dan staf pengajar di Unissula, Semarang,


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA