logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 September 2006 NASIONAL
Line

Jihad Budaya Pemimpin Perang Jawa


SM/Rukardi ORASI BUDAYA: Sardono W Kusumo menyampaikan orasi budaya dalam rangka Dies Natalis Ke-49 Undip, di Gedung Pascasarjana, Jalan Imam Bardjo, Sabtu (2/9) malam.

SELAIN dikenal sebagai pemimpin Perang Jawa (De Java Oorlog 1825-1830) yang masyhur, Diponegoro sejatinya adalah sosok yang memiliki jiwa intelektual. Hal itu dapat dirujuk dari sejumlah manuskrip yang ada, antara lain Babad Diponegoro versi Surakarta yang ditulis oleh pujangga Yasadipura, Babad versi Nagari Ngayogyakarta, Babad Kedungkebo karya Bupati Purworejo Cakranegara serta Babad Diponegoro versi Manado yang dia tulis sendiri saat menjalani masa pengasingan antara tahun 1830-1855.

Demikian pemaparan budayawan Sardono W Kusumo, saat menyampaikan orasi budaya dalam rangka Dies Natalis ke-49 Undip di Aula Gedung Pascasarjana, Jalan Imam Bardjo Semarang, Sabtu (2/9) malam. Jiwa intelektual itu, kata dia, selayaknya dijadikan pegangan bagi civitas academica Undip dan masyarakat pada umumnya untuk mengarungi lautan kehidupan.

Manusia Biasa

Mengutip salah satu versi Babad, Sardono menggambarkan Diponegoro sebagai manusia biasa yang tak menyukai perang. Dalam melakukan perlawanan, pangeran dari Tegalrejo itu lebih banyak mengarah pada hal-hal di luar peperangan. Sardono menyebut apa yang dilakukan Diponegoro sebagai Jihad Budaya.

''Diponegoro mentransformasi sikap-sikap reaktif yang ada dalam dirinya menjadi spirit antikolonial. Tak cuma pada Belanda, melainkan juga anasir-anasir yang terdapat di dalam keraton. Itu ciri jiwa intelektual.''

Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu lantas merujuk pada sejumlah catatan yang menegaskan intelektualitas Diponegoro. Penyusunan autobiografi menunjukkan keberaniannya mengaktualisasikan diri. Dengan manuskrip itu, dia hendak melakukan perlawanan sejarah.

Administrator Ekonomi

Sebagai intelektual, Diponegoro menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Dalam perundingan dengan Belanda di Magelang pada 28 Maret 1830, pangeran yang menyebut dirinya sebagai Sultan Abdulhamid Herucakra itu punya peluang menusukkan kerisnya ke lambung De Kock. Namun dengan penuh kesadaran, hal itu tidak ia lakukan.

Dalam lapangan hukum, Diponegoro juga memberi banyak pelajaran. Taruh misal, saat dia menolak diadili karena merasa sebagai pihak yang bersengketa atawa lawan perang.

Di sisi lain, dia juga seorang administrator ekonomi yang baik, tertib dan rajin.

''Dua peristiwa berikut dapat dijadikan sebagai bukti. Pertama dalam diskursus soal pembagian peran dengan Kiai Mojo. Kedua, pada saat menghimpun kekuatan rakyat melawan pematokan tanah Tegalrejo oleh preman-preman suruhan Belanda,'' ujarnya.

Sadar atau tidak, Diponegoro juga berikhtiar menyatukan dua entitas besar dalam masyarakat Jawa, yakni santri dan abangan. Dikisahkan, dalam sebuah kesempatan, Nyai Roro Kidul minta tolong Diponegoro untuk memohon Tuhan mengembalikan wujudnya kembali sebagai manusia.

Atas jasa tersebut, penguasa Laut Selatan itu menjanjikan bantuan untuk mengalahkan Belanda. Namun oleh Diponegoro, tawaran itu ditolak, karena selama ini telah menyatakan jihad di jalan Allah. Untuk itu, hanya kepada Allah-lah dia memohon pertolongan. Diponegoro, imbuh Sardono, adalah genius lokal yang punya nilai hampir setara dengan pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman.

Selain orasi budaya, acara yang dikemas dalam bingkai ''Malam Karier'' itu juga menyajikan kuliah emas Direktur BNI Sigit Pramono, yang notabene alumnus sukses Undip. Tampak hadir Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc, Rektor terpilih Undip periode 2006-2010 Prof Dr dokter Susilo Wibowo SpAnd, Guru Besar Fakultas Hukum Prof Dr Satjipto Rahardjo SH, Dirut BNI, Bupati Kudus HM Tamzil, civitas akademica serta sejumlah alumnus. (Rukardi-64v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA