| Senin, 04 September 2006 | SEMARANG |
TMMD di Daerah TerpencilGROBOGAN - Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Agus Soeyitno mengatakan, pelaksanaan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Jateng lebih banyak diarahkan di desa-desa terpencil. Sebab, desa-desa seperti itu cenderung tertinggal. Karena itu, TNI dan Pemkab berkewajiban membebaskan desa itu dari status terpencil. ''Tentara manunggal hanya sebagai salah satu upaya dari berbagai upaya yang dilakukan Pemkab dan jajarannya untuk membuka akses desa-desa terpencil menjadi mudah dijangkau sehingga desa itu tidak terisolasi,'' katanya ketika membuka TMMD Reguler Ke-77 di Desa Guyangan, Kecamatan Godong, Grobogan. Acara dihadiri bupati dan wakil. Didampingi Danrem Makutarama Kol FX Tampubolon, Dandim 0717 Purwodadi Letkol Inf Dwi Wahyu Winarto, dan jajarannya, dia mengatakan, pembangunan desa melalui TMMD juga diarahkan pada desa-desa yang sering menjadi sasaran bencana alam, baik banjir, kekeringan, angin topan, gempa bumi, maupun bencana lainnya. Menurutnya, desa-desa yang pernah menjadi sasaran bencana pada umumnya infrastrukturnya rusak, aktivitas ekonomi dan sosialnya terganggu. Karena itu, perlu dipulihkan melalui kegiatan tentara manunggal. TMMD dijadwalkan berlangsung 21 hari dan akan berakhir 21 September mendatang. Selain jajaran Kodim 0717, kegiatan itu juga melibatkan jajaran Polres Grobogan, Pemkab, dan masyarakat sekitar. Selama di desa itu, tentara manunggal bersama warga Desa Guyangan dan sekitarnya akan menyelesaikan pembangunan jalan desa, beberapa pos kamling, renovasi beberapa rumah warga dan tempat ibadah. Adapun kegiatan nonfisik lebih banyak diarahkan dalam bentuk penyuluhan hukum, kamtibmas, penyertifikatan tanah, per-KB-an, kependudukan, agama, kesehatan, dan pendidikan. (A23-37n) |