logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 September 2006 SEMARANG
Line

Petani Tegowanu Langgar Pola Tanam

  • Tanam Padi Tiga Kali Berturut-turut

GROBOGAN - Ratusan petani di Tegowanu melanggar pola tanam yang ditetapkan Pemkab. Sesuai dengan kesepakatan antara Dinas Pertanian Perkebunan, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Dinas Pengairan, Pemkab, dan tim terkait lainnya, pola tanam di daerah itu diwujudkan dalam bentuk padi, padi, dan palawija. Artinya, dalam setahun hanya terjadi dua kali tanam padi dan sekali tanam palawija baik dalam bentuk jagung, kacang hijau, kedelai, dan sebagainya.

Namun, di sebagian wilayah Tegowanu didapati tanam padi tiga kali berturut-turut sehingga dikhawatirkan tikus, wereng, tungro, belalang, dan berbagai jenis hama pengganggu tanaman tak bisa dikendalikan lantaran siklus perkembangannya tidak dapat dipangkas.

Menurut Darjo (47), petani Tegowanu, padi yang ditanam pada musim kemarau ini lebih banyak dilakukan petani yang mendapatkan pasokan air dari Bendung Glapan, Gubug. Sebab, air di bendung itu terus dipasok dari Rawapening melalui Sungai Tuntang sehingga pada kemarau persediaan air tetap melimpah. Bahkan, air itu tidak hanya mencukupi kebutuhan petani Tegowanu tetapi juga petani Gubug, Tanggungharjo, dan Demak dapat memanfaatkannya untuk pertanian tanaman pangan.

''Airnya memang berlimpah. Karena itu, petani Tegowanu dan sekitarnya yang mendapat pasokan dari Bendung Glapan, dipastikan tertarik mengolah sawah untuk ditanami padi,'' ujar dia, kemarin.

Sudah Tahu

Mereka umumnya sudah mengetahui, menanam padi pada musim kemarau seperti sekarang ini menyimpang dari pola tanam. Sebab, penyuluh pertanian lapangan (PPL) selalu memberikan penjelasan kepada semua kelompok tani di Gubug, Tanggungharjo, dan Tegowanu, pola tanam yang sesuai dengan aturan.

Sebelumnya, beberapa kepala desa (kades) di Kecamatan Gubug dan Tegowanu mendesak Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Edhie Sudaryanto untuk mengizinkan petani di daerah itu menanam padi pada musim kemarau. Pasalnya, air dari Bendung Glapan tersedia cukup.

Bahkan, bendung tersebut sanggup menggelontorkan berapa pun yang dibutuhkan petani di daerah itu. Namun Edhie melarang, karena menanam padi-padi-padi dalam setiap tahun merupakan penyimpangan dari aturan pola tanam. Meski demikian, petani tetap saja nekat menanamnya.

Kepala Dinas Pengairan Rudi Atmoko menekankan, petani Tegowanu sudah terbiasa menanam padi pada musim kemarau karena air untuk itu mencukupi. Ini karena Bendung Glapan yang mendapat pasokan dari Rawapening melalui Sungai Tuntang tak terganggu jika airnya digunakan untuk tanam padi musim kemarau.

''Seharusnya pola tanam Glapan sama seperti Kedungombo. Tetapi, entah karena apa, untuk bendung yang satu itu beda dari jaringan irigasi yang lain. Mungkin pngelola sumber daya air (PSDA) memperlakukan bendung tersebut berbeda dari bendung-bendung yang lain.'' (A23-37j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA