| Senin, 04 September 2006 | SEMARANG |
Pedagang Dugder BerdatanganSEMARANG- Kendati dugderan dalam rangka menyambut Ramadan belum dibuka, para pedagang dari berbagai kota di Jawa mulai menggelar dagangan. Mereka menempati trotoar sepanjang bundaran Polder Tawang. Sugiyono (30), salah seorang pedagang dari Bojonegoro, Jawa Timur, mengaku mulai membuka dasaran sejak Jumat (1/9). Bersama dengan dua orang temannya, dia berjualan celengan yang terbuat dari gerabah dengan berbagai ukuran, mulai yang kecil hingga tingginya setengah meter. Untuk celengan yang dijualnya berbentuk antara lain ayam, gajah, macan, semar, sapi. Harga yang ditawarkan Rp 10.000-Rp 40.000. "Untuk celengan ukuran besar, saya jual Rp 40.000," katanya, Minggu (3/9). Menurut dia, selama dua hari dirinya membuka dasaran, pembeli yang datang lebih dari 10 orang. Hasilnya bisa digunakan untuk makan selama di Semarang. "Selama berjualan di Semarang, saya tidur di lokasi. Hal itu saya lakukan untuk menjaga barang dagangan agar tidak dicuri orang," ungkap dia, yang mengaku telah 12 tahun ikut meramaikan tradisi dugderan yang digelar setiap tahun dalam menyambut datangnya Ramadan. Sugiyono menuturkan, nantinya uang yang didapat dari hasil penjualan digunakan untuk membeli pakaian baru menyambut Lebaran. Jenis Mainan Kartumi (70), pedagang lain menyatakan mulai menggelar dagangan, Minggu (3/9). Wanita yang tinggal di Bandarharjo tersebut, mengaku baru tiga kali ikut meramaikan dugderan. Dirinya menjual berbagai jenis mainan terbuat dari gerabah. Seperti kendi, kompor, mangkok, cowek, uleg-uleg. Harganya pun bervariasi dari Rp 500-Rp 10.000. "Untuk satu set, saya jual Rp 4000," ujarnya. Selain gerabah, Kartumi juga menjual boneka berbentuk kelinci. Harga yang ditawarkan terbilang cukup murah, yaitu Rp 5.000. Selama tidak ada dugderan, dirinya mengaku merawat cucunya di rumah. "Uang yang didapat selama berjualan, nantinya saya gunakan untuk membelikan baju baru buat cucu," ungkap dia. Berkaitan dengan parkir, Pemkot telah menentukan pengaturan untuk kendaraan pengunjung dan pedagang. Sepanjang jalan, mulai pertigaan Jl Empu Tantular hingga depan Stasiun Tawang -tepatnya di pintu masuk stasiun- tidak diperbolehkan untuk parkir. ''Ini supaya kendaraan yang menuju stasiun, terutama penumpang kereta api bisa berjalan lancar dan tidak macet. Dishub akan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pengelolaan parkir ini, sehingga pelaksanaan di lapangan bisa lebih terkoordinir, juga masalah lalu lintas akan dibahas lebih lanjut dengan kepolisian,'' tambah Kepala Dinas Pasar, Tommy Y Said. (ric, H12-18s) |