logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 September 2006 SEMARANG
Line

Santap Junk Food sambil Cuci Mata

TREN menyantap makanan saat ini tidak sekadar mengenyangkan perut. Suasana tempat makan yang cozy menjadi pertimbangan penting, terlebih bagi para kawula muda.

Meski banyak yang memilih bersantap siang di warung-warung sederhana atau PKL, tidak sedikit yang lebih suka makan di mal menikmati fast food.

Waktu makan siang, rumah makan cepat saji yang umumnya berlokasi di dalam mal/pertokoan besar hampir dapat dipastikan dipenuhi anak muda dan eksekutif muda. Kenyamanan dan kebersihan menjadi pertimbangan utama. Selain itu, hal penting lain yang menyebabkan para pengunjung betah berlama-lama di sana karena sekalian ''cuci mata''.

Hal itulah yang diungkapkan Ayu, Devi, Anggia, dan Yuni saat ditemui Suara Merdeka di salah satu mal dan sedang menyantap fast food. Para siswa sebuah SMP swasta di Semarang itu setidaknya 2 atau 3 kali seminggu menyempatkan diri hang out di mal. ''Ya tidak ada jadwal khusus sih, spontan aja,'' kata Devi.

Ayu menambahkan, uang saku yang diberikan orang tua mereka masing-masing hanya Rp 10.000/hari. Karena itu, untuk membeli menu makanan yang ada di restoran tersebut dilakukan dengan cara patungan. ''Setiap orang masing- masing membayar Rp 5.000,'' ungkapnya.

"Menu yang kami sukai adalah spaghetti, burger, dan kentang goreng. Untuk minuman, kami bawa sendiri dari luar, karena harganya cukup mahal dan uangnya tidak cukup," ujarnya.

Ayu dan kawan-kawan tidak memiliki tempat kongkow favorit di mal itu. ''Di mana saja, asal masih di mal. Yang penting bisa cuci mata,'' tambah Anggia.

Tak Suka Dugem

Saat disinggung apakah kebiasaannya tersebut diketahui oleh orang tua, Ayu mengatakan, setiap pengeluaran untuk makan di luar rumah memang selalu disampaikan kepada mereka. "Asalkan makanan itu bergizi dan tidak mengonsumsi dalam jumlah terlalu banyak, orang tua sih tidak keberatan,'' paparnya.

Kendati sering ke mal, Ayu dan kawan-kawan bukan tipe remaja yang suka dugem (dunia gemerlap).

''Daripada ke diskotek atau club, enakan makan di mal. Selain cuci mata, juga bisa saling curhat. Kalau di diskotek kan bising,'' urainya.

Hari, seorang pegawai perusahaan swasta, mengaku lebih senang mengajak pacarnya untuk makan fast food di mal, dengan alasan kepastian rasa. Dia mengaku, tempat makan favoritnya bersama sang pacar adalah restoran junk food waralaba asal Amerika. ''Selain makanannya enak dan cepat saji, suasananya juga cozy,'' tuturnya.

Hari mengaku merasa kurang nyaman, jika harus makan di pinggir jalan atau warung sederhana. Mengenai budget, Hari mengatakan, hal itu tidak terlalu dipikirkannya.

''Saya bisa mengeluarkan uang sekitar Rp 70.000 atau lebih sekali makan dengan pacar,'' terangnya. (Ida N, Hernandhono-18h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA