| Senin, 04 September 2006 | SEMARANG |
SALATIGAPasar Bakal Digusur, Darso Nyaris Bunuh DiriTENGARAN - Nyawa seorang pedagang Pasar Kembangsari Lama, Darso Mulyono (80), nyaris tak tertolong. Dia nekat akan mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, Sabtu (2/9). Untung saja aksi itu kepergok keluarganya sehingga dia terselamatkan. Saat ini dia masih dirawat intensif di Rumah Sakit Dokter Asmir Salatiga. Sampai Minggu (3/9), kondisinya masih kritis. Ada lebam melingkar di lehernya, bekas lilitan seutas tali plastik. Beragam dugaan muncul dari niat tukang pande besi itu, mulai dari rencana penggusuran Pasar Kembangsari Lama, sampai masalah keluarga. Namun, beberapa tetangganya yakin niat bunuh diri itu muncul akibat adanya rencana penggusuran pedagang. Sebab, dengan digusur, dia akan kehilangan mata pencaharian dan rumah tinggal. Seperti dituturkan Anto (20), dirinya tidak mengetahui secara persis kejadian saat Darso gantung diri. Namun sekitar pukul 12.00, dia mendengar teriakan dari rumah kakek yang tiap hari dipanggil Mbah Darso itu. Ketika datang di kiosnya yang juga sebagai warung makan, Darso sudah direbahkan di kasur. ''Tapi, badannya sudah kaku, kepalanya memerah, dan lidahnya sudah menjulur. Langsung saya bersama seorang tukang ojek membawa dia naik angkutan umum ke rumah sakit,'' tutur dia. Beberapa tukang ojek yang dimintai komentar mengakui Darso saat itu masih menggelantung di belandar kayu di atas kamar tidurnya. Mereka lalu bahu-membahu menurunkan Darso dengan memotong tali plastik yang menjerat lehernya. ''Setelah tali saya potong, Mbah Darso jatuh. Beberapa saat kemudian dia siuman. Lalu saya angkat ke kasur,'' kata Kendo. Lepas Tanggung Jawab Beberapa pedagang lainnya memastikan niat itu muncul karena khawatir dengan penggusuran pasar. Seluruh pedagang sudah mengetahui batas waktu yang ditetapkan TNI adalah 19 Desember. ''Bagaimana tidak stres, yang menggusur kami tentara,'' kata seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya. Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Agus Warsito mengatakan, Pemkab Semarang seakan tidak bertanggung jawab terhadap kebijakan pencabutan retribusi. ''Ibarat habis manis sepah dibuang. Setelah pedagang dikuras uangnya untuk retribusi, kini pemerintah malah mlayu,'' sesal dia. Agus menyebutkan, dalam setahun pemasukan retribusi dari Pasar Kembangsari Lama Rp 70 juta. Dengan besarnya retribusi itu tentu kebijakan pemerintah harus setimpal dengan jerih payah pedagang. ''Pemkab harus kerja keras bagaimana caranya mempertahankan tanah itu. Saya tegaskan, itu tanah negara,'' tuturnya. (dky,H14-37n) |