| Senin, 04 September 2006 | SEMARANG |
''Jemur Pakaian, Selalu Jatuh''SETEGAR-tegarnya Deby Aryo (20), hatinya tak kuasa menahan sedih ketika melihat sang ayah terbujur kaku di ruang IGD RS Islam Sultan Agung, Minggu (3/9). Duduk di sebuah kursi di depan tubuh ayahnya, matanya meneteskan air mata. Sebab orang yang selama ini membimbing dan menjadi panutan dalam keluarganya telah tiada. Beberapa kali dia mencari-cari soal, apa gerangan yang menyebabkan ayahnya mengalami kecelakaan. Toh itu tak bisa memperbaiki keadaan. Yang bisa dilakukan kini adalah pasrah dan berdoa agar arwah ayahnya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa. ''Ya, ini memang sudah takdir dari Tuhan. Saya sendiri sebelumnya merasakan hati ini kok selalu tidak enak. Beberapa kali saya menjemur pakaian, kok selalu jatuh. Setelah selesai menjemur, saya berniat tidur, kok tidak bisa tidur. Tubuh ini saya bolak-balik di atas ranjang, tetap tidak bisa tidur,'' tutur bungsu dari dua bersaudara itu. ''Tahu-tahu ada telepon dari saudara saya, kalau rombongan ayah mengalami kecelakaan di Kaligawe,'' tambah mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang itu. Firasat lainnya, dirasakan ketika dia menempuh perjalanan dari Pati ke Semarang, Kamis (31/8) lalu. Ketika berkendaraan, motornya selalu terantuk lubang jalan. Bahkan ketika sampai di kawasan Tlogosari, salah satu ban motornya meletus. ''Padahal saat itu saya melaju di jalan beraspal dan kondisinya halus. Kenapa bisa meletus,'' tutur pemuda yang kontrak di Jl Lamongan Barat itu. Di Semarang dia tidak hanya kuliah tetapi juga bekerja sambilan membuka usaha tempat pencucian. Tak Ada Firasat Lain lagi, Suwarningsih, istri korban. Sejak dari rumah dia sama sekali tidak mendapat firasat apa-apa. Selama perjalanan pun lancar. Karena itu, dia merasa terguncang ketika peristiwa itu menimpanya. Meski begitu, dia berusaha tetap tabah, menahan air mata meski duduk di depan jenazah suaminya. Yang lebih pilu, dia harus merasakan bagaimana penderitaan anak sulungnya, Susilowati (21). Sebab, bila seharusnya anaknya hari itu sudah bisa menikmati sebagai mahasiswa baru di Akbid Ngudi Waluyo Kabupaten Semarang, tetapi Tuhan berkendak lain. Anaknya justru mengalami luka berat-patah pada tulang rusuknya-dalam kecelakaan itu, dan harus menjalani perawatan intensif di RSI Sultan Agung. ''Besok (Senin, 4/9), anak saya sudah harus masuk kuliah. Itu hari pertama dia kuliah,'' kata wanita yang bekerja sebagai guru di SMK Bani Muslim dan SMK Bobkri Pati itu. (Karyadi-62) |