logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 September 2006 KEDU & DIY
Line

Lanting Dampit, Gurihnya Terasa Banget

DARMI (75), sejak pagi hingga siang, hanya duduk. Namun, tangannya terus bekerja, memunguti dodot lanting, kemudian dibentuk seperti angka delapan dan dijajar di atas rigen. Seterusnya, dijemur, jika dodot itu sudah kering segera di goreng.

Coba cicipi lanting buatan Darmi, pasti rasanya gurih dan renyah. Itulah makanan ringan lanting Dampit, salah satu makanan khas Magelang, yang terbuat dari ketela. Memproduksi makanan ringan lanting seperti yang dilakukan Darmi adalah pekerjaan sehari-hari sebagian warga Dusun Dampit, Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Usaha di daerah itu merupakan usaha sampingan bagi ibu-ibu rumah tangga, tapi juga melibatkan para remaja putri dan nenek-nenek. Hampir tidak ada pengangguran di daerah tersebut, karena semua ikut memproduksi lanting.

Warga di daerah itu mampu memasarkan lanting sampai ke berbagai kota di Jawa, seperti, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Tidak sedikit para tengkulak yang datang langsung ke Dampit untuk membeli lanting dan dipasarkan lagi sampai ke Sumatra, bahkan luar negeri.

Apa yang membuat lanting Dampit digemari dan memiliki cita-rasa yang khas. Menurut Tini (37), pembuat lanting, tidak semua jenis ketela bisa menjadi bahan baku. Dia hanya memilih jenis ketela klenteng, karena bisa menjadikan lanting lebih renyah.

"Ketela jenis putih atau lainnya jika menjadi adonan hasilnya lembek, sehingga kerenyahannya akan hilang. Selain itu, cita rasa ketelanya akan menyamai rasa kentang goreng," katanya.

Sudah sepuluh tahun terakhir ini, dia menekuni usaha membuat makanan ringan lanting. Keahlian membuat lanting diperoleh ketika dia menjadi buruh penjemur lanting. Hanya dengan bahan baku 5 kg ketela, usahanya dimulai. Akhirnya, usaha itu terus berkembang dan sekarang mampu menghabiskan bahan baku ketela 50 kg/hari.

"Dengan modal seadanya, saya memulai usaha itu, akhirnya berhasil, dan sekarang ini mampu menghasilkan lanting 18 sampai 20 kg/hari," ungkapnya.

Datang Membeli

Setiap satu kilogram lanting goreng dijual dengan harga Rp 8 ribu dan Rp 6 ribu untuk lanting mentah (belum digoreng). Bisa dipastikan, setiap satu pekan sekali, para tengkulak dari Semarang dan Yogya datang membeli lanting buatan Tini.

Membuat lanting, menurut Tini, tidak sulit, hanya dibutuhkan keuletan dan keahlian memberikan bumbu dalam adonan. Salah satu kunci menciptakan cita rasa khas pada lanting, lanjut dia, terletak pada adonan.

"Bumbu yang kami gunakan sederhana, hanya bawang putih, cabe, dan obat masak. Jika ukuran bumbu dan bahan baku imbang, maka akan menghasilkan cita rasa yang khas," katanya.

Untuk menjadikan lanting Dampit lebih gurih dilidah dan renyah, Tini memilih minyak goreng polos atau minyak goreng kualitas bagus. Dengan minyak goreng tersebut menjadikan lanting tahan sampai tiga bulan.

"Memang menggunakan minyak goreng polos biaya produksi tinggi, karena harganya agak mahal. Tapi, itu terpaksa kami lakukan demi menghasilkan lanting yang gurih dan renyah, juga tahan lama," terangnya. (Sholahuddin-39h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA