| Senin, 04 September 2006 | EKONOMI |
Sekilas EkonomiXL Luncurkan JimatSEMARANG-PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) meluncurkan produk prabayar Jalur Internasional Hemat atau Jimat. Produk ini menawarkan kemudahan bertelepon ke luar negeri dengan tarif lokal, yang berlaku mulai pekan lalu. Dedi Sirath, Vice President Central Region, mengatakan produk Jimat ini mulanya dikembangkan di Jatim, Bali, dan Lombok. Kini Jimat menjadi produk sendiri, meski fitur produk, layanan, dan beberapa tarif sama dengan Jempol, produk XL sebelumnya. Ia menjelaskan Jimat memberikan tarif khusus, yaitu tarif lokal untuk menelepon ke semua fixed line dan mobile lines sebesar Rp 500/30 detik dengan tujuan negara Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan dan China. Tarif yang diberlakukan hingga 31 Desember mendatang, dapat dinikmati konsumen dengan menekan 18 + kode negara + nomor tujuan. ''XL juga memberikan bonus pulsa langsung bagi pelanggannya untuk setiap pengisian pulsa serta fasilitas lain,'' katanya. (H22-33) Pedagang Tak Keberatan Impor Beras JAKARTA-Sejumlah pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) dan Pasar Kebayoran Lama tidak keberatan terhadap rencana impor beras oleh pemerintah. Namun mekanisme pelaksanaannya di lapangan harus sesuai prosedur yang benar. ''Tujuan impor beras ini, hanya untuk persediaan di masa mendatang akibat di beberapa daerah penghasil beras mengalami bencana alam. Jadi secara umum tidak mengganggu usaha kita," kata Edi, pedagang beras PIBC, di Jakarta, Minggu. Menurut dia, beras impor itu harus disimpan di gudang pemerintah (bulog) dan penggunaannya sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang benar, supaya harga di pasar tetap stabil. "Sekarang terjadi gejolak di masyarakat, karena mereka trauma terhadap kenaikan harga beras yang begitu drastis pada 2001, ketika pemerintahan saat itu impor beras," kata bendahara Koperasi Pedagang PIBC Jakarta itu. Menurut Edi, kenyataannya stok beras beberapa daerah di tanah air berkurang, walaupun memang banyak daerah mengalami surplus, seperti Lampung. "Setiap akhir tahun, kebutuhan beras di DKI Jakarta meningkat dan itu yang harus diantisipasi agar harga tidak melonjak drastis," katanya. Pemerintah harus turun ke lapangan, kata dia, jangan sampai harga beras jatuh drastis. "Harga beras harus tetap stabil pada harga yang wajar. Jika harga sudah mencapai kisaran Rp 5.000 pemerintah harus melakukan operasi pasar," katanya. Menurut dia, yang harus dijaga pemerintah adalah harga beras pada kualitas tiga, karena masyarakat Indonesia paling banyak mengonsumsi itu.(ant-33) |