logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 04 September 2006 BANYUMAS
Line

Kisah Duka Mantan Altet Nasional

Rumah Terbakar, Terpaksa Narik Becak

HABIS manis sepah dibuang. Pepatah itu dialami mantan atlet nasional asal Banyumas, Budi Tukiran (29). Saat prestasi dia raih, banyak orang mengelu-elukannya. Namun saat segalanya telah usai dan tak ada lagi prestasi, yang tersisa hanyalah kepahitan, karena tak seorang pun menghargainya. Itulah yang terjadi pada Budi, mantan atlet angkat besi dan angkat berat nasional ini.

Penghargaan dari pemerintah yang kurang pascapensiun dari keatletannya membuat, bapak dua anak ini kini terpuruk dari segi ekonomi. Berbagai penghargaan dan prestasi hingga mengharumkan nama bangsa dan daerahnya tetap saja tak membuat pemerintah, termasuk Pemkab Banyumas membantu memberikan jalan penghidupan yang layak lagi atas beban kemiskinan yang kini dipikulnya.

Pria kelahiran Banyumas, 30 Desember 1977 ini, saat ini juga tidak mempuyai tempat tinggal. Padahal dia juga sudah mempunyai keluarga yang juga butuh pengayoman dan masa depan. Rumah dan segala harta yang pernah ditabung ketika dia masih bisa berprestasi juga telah habis akibat kebakaran.

Rumah satu-satunya di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor itu terbakar saat dirinya sedang mengikuti Pembinaan dan Pembentukan Olahraga Prestasi (PPOP) di Semarang. Rumah yang terbakar itu, katanya memang tak semewah rumah para atlet lainnya yang bisa dikatakan berhasil. Rumahnya hanya cukup sebagai tempat tinggal dan berkuran sangat sederhana.

''Tapi itu rumah hasil jerih payah saya selama jadi atlet sehingga sangat berharga bagi kami. Coba sekarang, mau membuat rumah saja susah sekali,'' katanya.

Saat terbakar, semua perabot rumah, termasuk semua piagam penghargaan dan medali yang diraih selama berkiprah di cabang angkat berat dan besi juga ludes dimakan si jago merah. Nyaris tidak ada yang tersisa.

Sejak rumahnya terbakar, mantan atlet Pelatnas SEA Games Singapura ini terpaksa hijrah ke Kota Purwokerto. Saat itu ada seorang pengusaha setempat yang terketuk hatinya, meminjami lahan untuk didirikan rumah sebagai tempat tinggalnya. Lokasinya di Jl Kolonel Sugiono Purwokerto.

Di rumah kecil dari anyaman bambu itu, suami Nur Ani Supriatin ini membuka usaha bengkel sepeda. Dari rumah itu pula dia mulai menata hidup baru lagi. Karena sudah tak dipakai lagi jasanya sebagai atlet, dia harus bergelut dengan waktu untuk menghidupi anak dan istrinya. Karen tak ada pekerjaan tetap, dia pun bekerja apa adanya. Mulai dari menarik becak sampai pemulung pun dia jalani.

''Itu semua demi keluarga. Mengandalkan uluran tangan dari pemerintah tidak mungkin. Sebab, banyak atlet setelah tak berprestasi dilupakan.''

Bekerja sebagai pengayuh becak, rata-rata penghasilannya Rp 10.000 per hari. Itu pun harus dipotong untuk sewa becak Rp 3.000 per hari. ''Mau tak mau harus tetap kami jalani, meski sesulit apa pun,'' kata bapak dari Meliana Indah Nur Faidah (9) dan Vanila Putri Wibowo, 1 bulan ini. (Agus Wahyudi-36n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA