logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Agustus 2006 SALA
Line

Longsor, 170 Keluarga Diungsikan

KARANGANYAR-Sebanyak 170 kepala keluarga (KK) di Dusun Takisan, Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso terpaksa diungsikan dari hunian mereka ke beberapa tempat yang aman.

Pasalnya, perbukitan yang mengitari desa tersebut sebagian longsor dan mengancam ratusan permukiman warga. Longsor menyebabkan sejumlah akses menuju desa tersebut tertutup material.

Warga kian waswas lantaran tanah pegunungan di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Wonogiri itu terus bergerak hingga sore kemarin.

Kebanyakan warga diungsikan di Masjid Takisan yang dinilai cukup aman. Menurut keterangan yang dihimpun Suara Merdeka, retakan tanah di perbukitan tersebut sudah terjadi beberapa tahun lalu. Sejak bukit retak-retak, warga diinstruksikan pamong desa agar waspada dan sewaktu-waktu siap mengungsi, terutama saat penghujan.

Retakan bukit sepanjang hampir 20 meter melintang tersebut cukup membahayakan permukiman jika longsor. Kala itu warga sempat diungsikan dan rencananya direlokasi ke tempat yang aman lantaran rekahan terus melebar.

Namun kemudian, rekahan menyempit sehingga warga memilih kembali ke tempat tinggalnya. Kendati demikian, kekawatiran tetap dirasakan warga.

Terputus

Informasi yang dihimpun dari Kantor Kesbanglinmas menyebutkan, akibat kejadian itu alat-alat komunikasi terputus sehingga tidak banyak data atau kejadian yang bisa diakses. Jembatan yang menghubungkan kecamatan tersebut ke Kota Karanganyar melalui Kecamatan Matesih juga terputus.

''Lokasi yang dijadikan tempat pengungsian sangat darurat dan terbatas. Mereka membutuhkan tenda untuk berteduh, genset dan lampu untuk penerangan, serta dapur umum,'' ujar Kepala Kantor Kesbanglinmas Karanganyar, Drs Samsi MSi dalam laporannya melalui SMS, kemarin.

Dikatakan, lokasi kejadian longsor adalah tempat di mana Satlak penanggulangan bencana dan pengungsi (PBP) Karanganyar pernah melakukan simulasi penanggulangan bencana longsor. ''Jatiyoso, Jatipuro, dan sekitarnya dikenal sebagai wilayah yang rawan gempa dan longsor.''

Terpisah, Bupati Rina Iriani ketika dihubungi via telepon mengemukakan berdasar laporan Kantor Kesbanglinmas yang diterimanya, belum ada rumah yang tertimpa longsor. Material dimungkinkan hanya menutup akses jalan.

''Namun karena warga cemas, mereka memilih mengungsi. Lokasi itu sudah lama diantisipasi sebagai daerah rawan longsor. Laporan yang saya terima, hanya 70 keluarga yang mengungsi,'' ujarnya.

Dengan adanya longsor, Pemkab berencana membuat terasering di perbukitan yang retak-retak tersebut.

Adapun sumber dananya berasal dari pos tanggap darurat. Di pengungsian, warga beserta Satlak PBP mendirikan dapur umum. (G8-67)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA