logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Agustus 2006 NASIONAL
Line

Enam Negara Bersatu Promosikan Wisata


SM/Wisnu Kisawa PENTAS RAMAYANA: Pementasan Sendratari Ramayana oleh para penari STSI Solo di halaman Candi Borobudur, semalam. Acara ini sebagai penutupan pertemuan enam negara yang membahas promosi wisata bersama. (57v)

MAGELANG - Sekelompok penari perempuan yang membawa obor itu mampu menghadirkan aura religi begitu kental. Adegan penari kolosal dari STSI Solo itu seolah-olah membedah relief Candi Borobudur lewat mahakarya Sendratari Ramayana, semalam.

Tarian disaksikan para menteri pariwisata negara-negara anggota ASEAN, yaitu Lay Prohas (Kamboja), Soe Nang (Myanmar), dan Somphong Mongkhonvilay (Laos). Sementara itu, Thailand dan Vietnam hanya mengutus wakil menterinya. Persembahan sendratari itu sebagai pamungkas dari Trail of Civilization on Cultural Heritage Tourism Cooperation.

Agendanya adalah pembahasan simposium internasional, bisnis forum, pertemuan tingkat menteri, dan temupejabat senior dari enam negara. Pertemuan tingkat menteri berlangsung di Hotel Amanjiwo (cottage), Candi Borobudur, Kabupaten Magelang.

Di depan tangga Candi Borobudur, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik didampingi perwakilan enam negara ASEAN menyampaikan tekad untuk mengangkat jejak peradaban kebudayaan Buddha.

"Yang berusaha diangkat bersama adalah jejak peradaban enam negara. Suatu trail of civilization. Karena di situ terkandung sejarah peradaban kebudayaan Buddha," katanya.

Dia mengemukakan, tujuan agar dunia mengetahui bahwa keenam negara tersebut memiliki jejak-jejak peradaban yang relatif sama dan perlu dikunjungi dunia.

Menyerupai Borobudur

Dia mencontohkan, di enam negara itu ada objek-objek peninggalan sejarah dan kebudayaan Buddha yang menyerupai Borobudur. Misalnya Luang Prapang, Ankor Watt, Ayothaya, Kwe, dan Bagan.

"Objek-objek itu yang mau dipromosikan bersama-sama. Selama ini kami berpromosi sendiri-sendiri. Sekarang kami akan promosi bersama-sama. Kalau bersama-sama, gaungnya akan lebih besar," tandasnya.

Sementara itu, seusai simposium di Mercure Hotel Yogyakarta, Menko Kesra Aburizal Bakrie menekankan, pertemuan tersebut memiliki arti tersendiri bagi para peserta.

Pemilihan Yogyakarta sebagai tempat pertemuan, ujar Ical, karena dianggap sebagai salah satu jantungkebudayaan Indonesia.

Selain itu, gempa 27 Mei lalu menyedot perhatian dunia sehingga persepsi asing terhadap Kota Pelajar itu sebagai daerah yang dikabarkan rusak total akibat bencana alam tersebut dapat terbantahkan. Setidaknya itu terjadi, ketika para utusan negara tetangga menyaksikan langsung keadaan daerah itu.

"Itu akan memulihkan citra pariwisatadanekonomi negeri kita. Persepsi dunia tentang Indonesia, khususnya Yogyakarta, sebagai daerah tidak aman, mudah-mudahan bisa ditepis dengan adanya pertemuan ini." (sho,G19-60j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA