logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Agustus 2006 SEMARANG
Line

Kunjungan Kerja Menteri Pertanian

Dari Panen Salak hingga Ikut Lelang Sayur

''SALAK ini sudah diberi nama apa belum?'' kata Menteri Pertanian (Mentan) Dr Ir Anton Apriyantono MS, kemarin. ''Saat ini kami beri nama Salak Serasi, Pak. Sebelumnya Salak Jetis. Kalau berkenan, Pak Menteri bisa memberikan nama untuk buah ini,'' jawab seorang petani.

Dialog tersebut terjadi di lahan kebun salak milik Kelompok Tani Sri Rejeki, Dusun Ngasem, Desa Jetis, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin (28/ 8).

''Iya, nanti kami carikan nama yang bagus untuk buah unggulan ini,'' jawab Menteri yang saat itu diberi kesempatan memanen dengan cara menggergaji batang gerombolan buah tersebut.

Mentan bersama rombongan pun mencicipi buah berkulit kasar yang berasa enak tersebut. Perpaduan salak banjar, pondoh, dan lumut, itu ternyata menjadi salah satu buah unggulan di kabupaten tersebut.

Menurut Jatmiko, anggota Kelompok Tani Sri Rejeki, distribusi buah tersebut sudah mencapai Kota Semarang dan sekitarnya hingga Kalimantan. Sebanyak 30 anggota kelompok tersebut memiliki lahan 10 hektare yang ditanami pohon salak.

''Satu hektare ada 2.000 pohon. Kalau 10 hektare berarti ada 20.000 pohon. Untuk setiap 2.000 pohon, kami bisa memanen 3-4 kuintal salak dalam seminggu. Dalam setahun, satu pohon menghasilkan 20 kilogram. Panen buah itu bisa dilakukan setiap minggu,'' terang Jatmiko.

Sebelum menuju lahan salak, Mentan didampingi Bupati Semarang, H Bambang Guritno SE MM, Kepala Dinas Pertanian Jateng, Ir Bambang Supariyadi MM, dan Kadinas Pertanian Kabupaten Semarang, Ir Warnadi MM, juga memanen bunga krisan. Bunga hias itu juga menjadi komoditas unggulan di Bumi Serasi tersebut.

Suratno, ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, menjelaskan, ada empat hektare lahan yang digunakan budi daya bunga yang biasa dimanfaatkan untuk dekorasi itu.

Lelang Sayur

Total hasil panen keseluruhan dalam tiga bulan, lanjut Suratno, mencapai 120.000 ikat.

''Bunga krisan itu bisa dipanen setiap minggu. Setiap ikat kami jual Rp 9.000,'' kata dia.

Usai mengunjungi kelompok tani tersebut, Mentan menuju aula pertemuan Desa Jetis, Ambarawa. Dalam kesempatan itu, Mentan juga mengukuhkan Forum Penyuluhan Pertanian Pedesaan Kabupaten Semarang. Kepada kelompok tani se-kabupaten itu, dia memberikan bantuan 12 sepeda motor, 18 komputer, 11 telepon genggam, dan bantuan penguatan modal usaha.

Bantuan modal tersebut berupa padi senilai Rp 200 juta, jagung (Rp 160 juta), tanaman hias (Rp 400 juta), kopi (Rp 800 juta), dan 20 ekor sapi. Bantuan tersebut ditujukan kepada petani di Ambarawa, Bancak, Getasan, Jambu, dan Sumo-wono.

Usai memberikan sambutan, Mentan juga berkenan mengikuti lelang sayur di Pasar Jetis. Dalam kesempatan itu pihaknya turut mengikuti lelang.

''Wah, ini kesempatan langka, ada Bapak Menteri tiba-tiba datang ikut lelang sayur,'' ucap pemandu lelang.

Pejabat teras itu pun ''memenangkan'' lelang buah salak seharga Rp 8.000/ kg ketika para peserta lelang hanya ''berani'' mencantumkan harga di bawah Rp 8.000.

Anton Apriyantono selanjutnya menuju Kota Semarang untuk membuka Pekan Florikultura Nasional.(Rony Yuwono-16a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA