| Selasa, 29 Agustus 2006 | KEDU & DIY |
Manfaatkan Kayu Limbah Menjadi PensilKAYU dari sisa-sisa produksi mebel itu mungkin bagi sebagian orang dianggap tidak berguna, biasanya hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Namun bagi Ipung Purwanto (43), sangat menyayangkan jika kayu-kayu itu dibakar. Warga Dusun Tingal, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ini ahli untuk menyulap limbah kayu itu menjadi barang atau pernak-pernik yang memiliki nilai ekonomi. Lihat hasil kreatifnya. Dari limbah kayu itu dia bisa menghasilkan alat-alat tulis, seperti pensil dan pengerut pensil dan berbagai pernak-pernik meja kantor. Selain itu dia juga membuat gantungan kunci, penyobek kertas dan pembatas buku. Hasil karyanya berbeda dengan produk alat tulis buatan pabrik atau yang biasa dijual di toko. Misalnya produk pensil, sentuhan tangan Ipung menjadikan pensil itu mirip dengan boneka atau Patung Pinokio. Pensil yang dibuatnya tidak hanya sekadar pensil yang bisa digunakan untuk menulis, tapi juga bisa digunakan untuk hiasan meja kantor atau meja belajar. Mengapa demikian? Karena diberi berbagai aksesoris sehingga tampak indah seperti boneka atau patung. Misalnya, pensil itu dipasangi buah nyamplung yang bulat di bagian sisi ujungnya sehingga tampak seperti bentuk kepala. Setelah itu dia menghias kepala dengan rambut berwarna-warni atau diberi aksesoris topi. Agar tampak lebih hidup seperti boneka, pensil itu diberi gaun berwarna-warni. Warna Natural Ciri khas dari karya Ipung, terletak pada warna. Dia lebih memilih warna natural atau warna alami dari bahan bakunya. Misalnya, bahan baku dengan menggunakan warna kayu kecoklatan, ketika jadi pensil keaslian warna kayu itu yang lebih dominan. Meski barang buatannya tergolong unik dan cantik, dia tidak menjual dengan harga tinggi. Tapi relatif terjangkau, rata-rata dijual dengan harga antara Rp 1.000 sampai Rp 5.000 tiap pensil. Hasil karyanya dipasarkan sampai ke Bali dan DIY. Bahkan dia juga berhasil memasarkan sampai ke negara-negara Eropa. Di sekitar taman wisata Borobudur, karyanya bisa didapat di galeri Krik-Kot. Galeri itu milik Ipung yang merupakan agen tunggal untuk memasarkan kreatifitasnya. Dia menceritakan, kesuksesan menjadi perajin itu tidak dirancang dan disangka sebelumnya. Dia memulai bisnisnya dari keisengannya untuk mengotak-atik limbah kayu. Waktu itu dia baru saja di PHK menjadi karyawan Hotel pada saat krisis moneter 1997. ''Disaat terkatung-katung karena tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kreatifitas saya muncul ketika melihat kayu-kayu bekas berserakan di sekitar rumah. Usaha itu saya mulai dengan bahan baku seadanya karena memang tidak mempunyai modal. Terkadang mendapatkan kayu gratisan dari tetangga. Dari situlah usaha itu terus berkembang sampai sekarang,ííkatanya. Setelah sembilan tahun menggeluti usaha itu, sekarang dia mempunyai delapan karyawan untuk membantunya guna memproduksi kerajinan lebih banyak lagi. Untuk mencukupi bahan baku produksi dia mendatangkan limbah kayu dari perusahaan mebel. Dalam sebulan, Ipung dapat memproduksi 1.000-6.000 berbagai macam alat tulis dan peralatan sekolah lainnya. Omzet yang didapatnya sekitar Rp 12 juta/bulan.(sholahuddin-39) |