logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Agustus 2006 INTERNASIONAL
Line

''Ibu Kaum Demonstran'' Nepal Tewas Ditabrak Motor

KATHMANDU - Chhaya Devi Parajuli, nenek berusia 88 tahun yang aktivis antimonarki Nepal tewas setelah ditabrak sepeda motor. Keluarganya mengabarkan berita duka itu Senin kemarin.

Parajuli adalah anggota biasa Kongres Nepal, partai terbesar di Negeri Tepi Dunia itu. Wanita itu berasal dari sebuah desa di Nepal timur. Dia datang ke Kathmandu pada 2002 saat Raja Gyanendra kali pertama memecat perdana menteri terpilih. Parajuli telah 35 kali ditangkap polisi dalam gelombang demonstrasi di Kathmandu.

Sejak itu, dia selalu berada di barisan depan dalam setiap demonstrasi di Kathmandu untuk memprotes raja. Gyanendra sepenuhnya mengambil alih kekuasaan pemerintahan pada 2005, dengan alasan menumpas pemberontakan kelompok maois.

Parajuli adalah perempuan tua bertubuh pendek yang terlihat lemah. Dia selalu memasang kayu cendana putih atau kuning di dahinya. Dia telah berkali-kali terkena gas pemedih mata dan semprotan meriam air.

Gelombang protes memuncak pada April lalu. Unjuk rasa sering berubah menjadi kerusuhan. Demonstran menuntut Gyanendra mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada partai-partai politik.

''Saya tidak takut,'' kata Parajuli saat memimpin protes. ''Saya tidak peduli dengan diri saya. Saya hanya peduli negara dan bangsa saya.'' Parajuli adalah ibu dari tiga putri dan dua putra. Dia ditabrak sepeda motor bulan lalu. Setelah dirawat hampir sebulan di rumah sakit Kathmandu, dia meninggal Minggu lalu.

Aktivis kawakan itu sangat ingin bertemu dengan pemimpin maois Prachanda. Dia ingin berpesan kepada Prachanda untuk terus berjuang bagi perdamaian Nepal. Partai-partai Nepal kemarin menyatakan bela sungkawa dan memuji perjuangan Parajuli yang dijuluki ''Ibu Kaum Demonstran''.

''Semangat dan kegigihannya dalam setiap unjuk rasa telah mendorong kami semua,'' kata Amrit Kumar Bohara, pemimpin Partai Komunis Nepal.

Maois dan pemerintahan sementara Nepal telah menyepakati gencatan senjata selama lebih dari tiga bulan. Kedua pihak melakukan sejumlah perundingan untuk mengakhiri konflik. (rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA