logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 29 Agustus 2006 INTERNASIONAL
Line

Aksi Mogok Lumpuhkan Baluchistan

QUETTA - Gelombang kekerasan terus merebak di Kota Quetta, Provinsi Baluchistan, Pakistan Senin kemarin. Aksi pemogokan sebagai protes atas pembunuhan seorang pemimpin pemberontak nasionalis telah melumpuhkan kota itu. Jalan-jalan lengang dan toko-toko tutup.

Partai-partai politik di Provinsi Baluchistan yang kaya gas itu menyerukan pemogokan untuk memprotes pembunuhan terhadap pemimpin kawakan Nawab Akbar Khan Bugti (79) Sabtu lalu.

Bugti tewas akibat serangan pemerintah terhadap tempat persembunyiannya di gua terpencil di provinsi itu. ''Sebagian besar toko tutup tetapi situasi tenang. Tidak ada insiden kekerasan terjadi hari ini,'' kata Deputi Kepala Kepolisian Provinsi Salman Saeed.

Paling tidak tiga orang tewas Minggu lalu ketika protes yang rusuh meluas dari Quetta, ibu kota provinsi itu, ke kota-kota lain. Kaum nasionalis selama puluhan tahun menuntut bagian lebih besar atas keuntungan dari kekayaan sumber-sumber alam provinsi itu.

Pemberontak Baluchistan pro-otonomi melancarkan pemberontakan selama puluhan tahun. Pada tahun lalu, mereka meningkatkan serangan terhadap prasarana, termasuk pipa gas dan pos-pos keamanan.

Tindakan Tegas

Para pejabat pemerintah mengatakan, pasukan keamanan tidak mengincar Bugti yang tewas ketika bom meledak dalam pertempuran seru di sebuah gua. Tebing gua itu ambruk terkena ledakan.

Namun, para politikus dan pengamat mengatakan kematian Bugti mungkin akan meningkatkan penentangan terhadap pemerintah di provinsi terluas tetapi termiskin itu.

Presiden Pervez Musharraf mengemukakan, tindakan tegas akan dilakukan untuk menjamin kekuasaan pemerintah di Baluchistan. Namun, dia mengatakan pintu selalu terbuka bagi perundingan.

''Kita tidak menutup saluran ini di masa lalu begitu juga di masa mendatang,'' kata Musharraf. ''Akan tetapi, kami tidak dapat membiarkan siapa pun menyerang pasukan keamanan dan jika ada yang melakukan ini, kami akan mengambil tindakan tegas.''

Demonstran di Quetta membakar puluhan kantor pemerintah dan sedikitnya dua bus. Lampu-lampu lalu-lintas hancur berantakan dihantam para demonstran. Namun, tidak dilaporkan timbul korban jiwa.

''Di beberapa tempat, para mahasiswa dan pemuda merusak gedung-gedung pemerintah. Namun, pada umumnya situasi tetap stabil,'' kata polisi.

Polisi mengatakan sekitar 700 orang, banyak di antaranya adalah mahasiswa dan pelajar, ditangkap di Quetta sejak Sabtu lalu.

Pakistan Siaga

Pakistan berada dalam keadaan siaga untuk menghadapi kemungkinan berkembangnya kerusuhan. Larangan keluar rumah diberlakukan di Quetta. Pasukan paramiliter dikerahkan, sementara pemrotes terlibat baku-tembak dengan polisi. Sebuah bom meledak di satu kantor pemerintah di sebelah selatan ibu kota provinsi tersebut.

Pemerintah bersiap menghadapi kerusuhan lebih lanjut setelah aliansi empat partai Baluchistan menyerukan pemogokan umum.

''Kami telah meminta pemerintah untuk menyerahkan jenazah Nawab Akbar Bugti kepada kami karena dia adalah seorang pahlawan nasional dan kami ingin memakamkan dia sebagaimana mestinya,'' kata Kachkol Ali, pemimpin aliansi empat partai tersebut.

Bugti, pemimpin kondang berpendidikan Inggris, meninggalkan bekas kubunya awal tahun ini, menyusul razia yang dipicu serangan roket selama kunjungan Presiden Pervez Musharraf Desember lalu. (ant-rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA