logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 25 Agustus 2006 KEDU & DIY
Line

Tiap Polisi Dibekali Dua Buku Polmas

KEBUMEN - Menyadari jumlah polisi tak sebanding dengan jumlah warga, Polres Kebumen gencar mewujudkan perpolisian masyarakat (polmas). Setiap polisi kini dibekali dua buku saku dan mereka wajib menerapkan di lingkungannya.

Kapolres AKBP Drs Firli MSi di depan para Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babin Kamtibmas) di Gedung Bhayangkara, Rabu (23/8) membagi 900 buku saku tersebut. 800 buku untuk anggota 22 Polsek, sisanya dibagikan di Polres, Polwil, Polda dan Polri.

Dua buku saku itu, satu dicetak dengan sampul warna kuning berjudul ''Mewujudkan Perpolisian Masyarakat di Polres Kebumen''. Satu lagi berwarna merah dengan titel ''Aplikasi Polisi Simpatik Polres Kebumen''. Dua buku itu simpel dan mudah dipahami isinya, tak lebih dari 24 halaman.

Menurut Kapolres, sejalan perubahan paradigma di masyarakat, menuntut polisi menyesuaikana diri dan mengubah pendekatan dari reaktik konvensional menjadi proaktif dan kemitraan. Konsep perpolisian masyarakat yang digulirkan Kapolri sejak 2004 dirasa pas dengan kultur masyarakat Indonesia saat ini.

Kejahatan dan gangguan Kamtibmas semakin beragam, sedangkan personel polisi belum sebanding dengan jumlah penduduk. Di negara maju sekalipun, kejahatan tetap terjadi, sehingga menuntut polisi mampu menjalin kemitraan agar masyarakat berperan aktif menciptakan kamtibmas.

Peran Masyarakat

Kapolres mencontohkan Kecamatan Rowokele di barat Gombong, yang saat ini beranggotakan 20 persone, sementara jumlah penduduk 53.000. Itu berarti, satu polisi berbanding 2.650 jiwa. Seorang polisi harus menjaga keamanan bagi 2.500 jiwa, dan itu sesuatu yang tak mungkin tanpa ada peran aktif masyarakat.

Kapolres menganjurkan para Kapolsek terus menyebarluaskan pengertian perpolisian masyarakat di lingkungannya. Dia juga menganjurkan Kapolsek dapat membentuk forum komunikasi perpolisian masyarakat yang terdiri atas tokoh berpengaruh, tokoh agama, tokoh pemuda, LSM di lingkungannya.

Dia menekankan, ada lima prinsip polmas,antara lain keterbukaan, kesetaraan, personalisasi, penugasan yang permanen, dan desentralisasi, serta otonomi.

Menurut Kapolres, sebenarnya tugas Kamtibmas sesuai Undang-Undang 32/2004 bukan hanya di tangan polisi. Pemkab dan DPRD pun perlu peduli terhadap keamanan daerahnya. Karena itu, semestinya kegiatan polmas itu juga didukung APBD.

Di sisi lain, AKBP Firli meminta polisi dalam bertugas menjaga profesionalisme, bersikap simpatik, menghargai orang lain, tidak arogan serta selalu berobsesi sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. (B3-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA