SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Senin, 07 Agustus 2006

- "Koruptainment", itulah gambaran format penayangan wajah dan "profil" koruptor di televisi yang tengah dirancang Kejaksaan Agung. Semangat Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh itu tentu tidak untuk membuat "ringan" konsep penanganan perburuan para koruptor sebagai sebuah konsep entertainment -"menokohkan" mereka yang menggerogoti harta negara. Justru dengan istilah itu kita melihat upaya untuk menciptakan efek jera dari dua sisi.

- Apa yang dikemukakan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Seminar ''Mencari Format Baru Sistem Pilkada yang Demokratis dan Efisien'', menarik untuk dikaji lebih lanjut. Dia menilai, proses demokrasi di Indonesia sangat tidak efisien karena menelan biaya sangat besar hingga puluhan triliun rupiah. Padahal, demokrasi itu sendiri bukanlah tujuan melainkan wahana untuk mencapai tujuan utama, yakni kesejahteraan masyarakat.

DUNIA pendidikan kita sedang berada di era dikotomi. Pembedaan seperti yang tercermin dalam pemberian status terakreditasi vs tidak terakreditasi, unggul vs tidak unggul, mahal vs murah, dan favorit vs tidak favorit berpotensi menumbuhkan diskriminasi sosial yang tidak berkeadilan.

SALAH - satu ciri dari kehidupan masyarakat religius adalah kerelaan untuk menerima azab dan bencana sebagai cobaan dan ujian yang sedang diberikan oleh Tuhan sebagai perwujudan kecintaan Sang Pencipta pada umatNya.

Dulu kita punya slogan ACI (Aku Cinta Indonesia) dan BPI (Bangga Produksi Indonesia). Saat itu gang promonya sungguh luar biasa. Medianya menyebar mencakup apa saja termasuk dunia layar kaca. Tapi sekarang ke mana slogan itu. Apa karena dianggap berhasil sehingga cukup sampai di sini?.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA