logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 RAGAM
Line

TASAWUF interaktif

Tata Krama Membaca Alquran

TANYA: Prof. Amin yang terhormat, saya adalah seorang muslim yang masih awam tentang Islam. Ketika saya membaca tafsir Alquran karya Bachtiar Surin cet. 1978 tentang surat al-Ikhlas, dijelaskan, bahwa surat tersebut berisi perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk menjawab pertanyaan Amir bin Thuffail, utusan orang musyrik Quraisy, tentang Tuhannya Muhammad itu siapa. Maka turunlah surat al-Ikhlas ayat 1-4, yang ingin saya tanyakan :

1.Apakah kita harus membaca surat al-Ikhlas tersebut secara utuh, karena surat tersebut merupakan perintah Allah kepada nabi Muhammad. Apabila kita membaca secara utuh, akan dianggap orang yang tidak dapat membaca sebuah perintah, dan lebih fatal lagi, kalau dianggap "menyamai" Allah, yaitu ikut memerintah.

2. Apakah salah, jika saya membaca surat al-Ikhlas langsung dibaca huwa Allahu Ahad dan seterusnya, tanpa qul, demikian pula dengan surat atau ayat yang didahului Qul (katakanlah)

Nampaknya dalam beberapa surat lain yang senada dengan surat al-Ikhlas akan menimbulkan masalah yang sama, seperti surat al-nas dan al-Falaq, yang didahului dengan Qul (katakanlah). (Amir Fatah, Semarang)

JAWAB : Sebelumnya mohon maaf atas keterlambatan jawaban untuk pertanyaan Anda karena banyaknya surat yang masuk pada kami dan terbatasnya rubrik interaksi tasawuf di koran tercinta ini.

Ketika mempelajari dan membaca Alquran, kita harus memahami bahwa proses turunnya alquran ada yang dilatarbelakangi oleh sebab tertentu dan ada yang tidak ada sebab yang melatarbelakanginya. Dalam istilah ulumul qur'an (ilmu-ilmu yang membahas tentang Alquran dan hal-hal yang berkaitan dengannya), sebab yang menjadi latarbelakang turun sebuah ayat atau surat disebut asbab al-nuzul (sebab-sebab turun ayat/surat).

Demikian halnya surat al-Ikhlas, sebagaimana yang Anda ceritakan turun berkaitan dengan pertanyaan orang-orang musyrik kepada Nabi Muhammad saw tentang Tuhannya.

Kemudian Allah swt. turunkan surat al-Ikhlas. Berkaitan dengan sebab-sebab turunnya surat al-Ikhlas ini sangat banyak riwayatnya. Bisa dilihat misalnya dalam kitab mukhtashar tafsir Ibn katsir, karya Muhammad 'Ali al-Shabuni.

Dalam hal ini kita harus bisa membedakan konteks membaca. Kapan membaca teks Alquran sebagai kalamullah, yang di dalamnya mengandung nilai ubudiyyah yang mendapat pahala, dan kapan kita membaca (mengucapkan) sebuah teks sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan orang lain.

Dalam membaca teks Alquran harus dibaca secara utuh, tidak boleh dikurangi atau ditambah. Karena susunan ayat atau surat yang ada dalam Alquran itu bersifat tauqifi (penetapan langsung dari Allah swt. melalui Nabi Muhammad saw)

Namun ketika kita membaca teks Alquran dan dihubungkan dengan proses turunnya Alquran itu (asbab al-nuzul), bisa jadi teks ayat yang ada merupakan jawaban pertanyaan kasus yang terjadi, baik kalimahnya berbentuk statemen biasa, atau berbentuk perintah seperti yang ada dalam surat al-Ikhlas, al-Nas atau al-Falaq.

Karenanya bukan berarti saat kita membaca surat al-Ikhlas yang diawali dengan qul (katakanlah), artinya kita memposisikan diri seperti Allah yang memerintah Muhammad atau umat muslim, atau menyamakan diri kita seperti Allah. Bukan!

Konkretnya, kita harus bisa membedakan antara kondisi sedang membaca teks dan kondisi ketika kita sedang berdialog dengan orang lain, dan saat membaca Alquran, kita tidak sedang berdialog dengan Allah atau umat Islam. Karena ayat-ayat yang bernada perintah (secara personal), ketika itu konteksnya tertuju pada Nabi Muhammad saw, bukan pada Anda yang sedang membaca. Untuk lebih jelasnya Anda kami anjurkan membaca buku-buku yang menjelaskan tentang asbab al-nuzul yang ada dalam kajian ulumul qur'an. Misalnya buku ulumul qur'an, karya Dr. Subhi Shalih atau Manna' Qaththan. Semoga dapat (11)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA