| Senin, 07 Agustus 2006 | WACANA |
Aspek Budaya dalam Penanganan Bencana
SALAH - satu ciri dari kehidupan masyarakat religius adalah kerelaan untuk menerima azab dan bencana sebagai cobaan dan ujian yang sedang diberikan oleh Tuhan sebagai perwujudan kecintaan Sang Pencipta pada umatNya. Pemahaman semacam itu telah merasuk ke alam pikiran masyarakat kita bahkan kini telah menjadi semacam keunggulan psikologis yang tidak dimiliki oleh masyarakat lain. Daya tahan untuk menerima derita telah dihidupkan oleh ungkapan ''hidup ini ibarat tukang parkir'' yang berarti hakikat kehidupan adalah titipan. Manusia tak ada kuasa untuk menguasai memilikinya. Coba renungkan bagaimana ciri keikhlasan yang biasa ditunjukkan oleh tukang parkir yang di setiap harinya harus siap menerima titipan mobil tetapi pada saat yang sama harus siap pula menerima kenyataan, mobil-mobil itu harus diambil kembali karena memang bukan miliknya. Kredo semacam itu rupa-rupanya telah menjadi kesadaran kolektif dari warga masyarakat dalam merespon setiap penderitaan. Jika mereka berhasil mendapatkan makna semacam itu di tengah penderitaan yang mereka alami, itu berarti mereka telah mendapatkan separuh dari kebahagiaan. Sama halnya dengan masyarakat di Cilacap, Kebumen, dan daerah-daerah lainnya yang sedang menerima cobaan dalam bentuk hantaman gempa dan sapuan tsunami.Di tengah kesulitan untuk bisa bertahan hidup kini ketabahan mereka harus diuji kembali. Rural Development Kini kewajiban membangun komunitas pascabencana harus mulai dilakukan di lokasi bencana . Bagaimana harus memulai, dan dari mana harus mulai dikerjakan ? Langkah-langkah taktis dan strategis untuk menuju penanganan pascabencana tentu sudah mulai dilakukan. Bahkan Perda untuk mendukung efektivitas pelaksanaan kerja penanganan pascabencana pun sudah mulai dipikirkan. Hanya di tengah hiruk pikuk penanganan pascabencana yang kini sedang diwujudkan, penulis ingin menambahkan informasi yang diharapkan dapat menambah rujukan dalam hal penanganan. Terutama dalam pendekatan yang seharusnya dilakukan. George W Doherty (2006) dalam artikelnya yang berjudul Cross-Cultural Counselling in Disaster Setting, menekankan arti pentingnya cross - cultural approach sebagai salah satu pendekatan dalam membangun komunitas yang telah porak poranda di semua sektor, antara lain : sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian, sosial budaya, dll. Kegagalan membangun komunitas pasca bencana, bermula dari kegagalan dalam memahami aspek lintas budaya dari penderitaan itu sendiri Bahwa orang yang menjadi korban bencana sesungguhnya sedang merasakan derita dan memiliki segudang harapan yang ingin diwujudkan menjadi kenyataan jangka pendek di ranah ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial budaya, pertanian, dll. Harapan itu menjadi semacam pengetahuan atau budaya yang mereka miliki dan ingin diwujudkan tetapi tidak tahu bagaimana harus memulai dan bagaimana harus membiayai. Itulah yang disebut sebagai pengetahuan tersembunyi (hidden knowledge) yang belum tereksplisitasi menjadi pengetahuan eksplisit milik korban. Penanganan pascabencana sesungguhnya diharapkan dapat menjadi sarana mewujudkan pengetahuan tersembunyi menjadi kenyataan. Dengan cara itu minimal penderitaan korban dapat teringankan. Bentuk bantuan apakah dalam wujud uang atau material; bentuk bangunan rumah yang mereka inginkan apakah berdisain tradisional atau modern; penanganan kesehatan yang mereka inginkan apakah melalui puskesmas, rumah sakit, atau orang tua/ kiai dll merupakan pengetahuan tersembunyi yang apabila berhasil didekati dan dipahami akan dapat mendatangkan kebangkitan hidup. Dengan begitu, cara penanganan yang benar-benar memperhatikan aspek budaya dari para penderita sangat diharapkan. Yakni cara penanganan yang tidak sekadar menjadi kriteria subjektif milik para pelaksana penanganan pascabencana dan juga standarets yang selalu menjadi rujukan untuk menilai konsep keselamatan, kesehatan, dan keindahan dari sisi pelaksana saja; melainkan harus tunduk dan mendengarkan budaya para korban. Bertanya sebanyak-banyaknya kepada para korban dan juga key informan yang dipandang benar-benar memahami kebudayaan lokal yang berlaku di lokasi bencana, juga pemahaman intersubjektif antara korban dengan penolong, merupakan wujud dari apa yang disebut dengan penanganan pascabencana yang berbasis pada cross cultural approach . Pendekatan ini penting untuk tetap dilaksanakan agar sejumlah konsep, model, atau bahkan kapital yang telah diarahkan untuk penanganan pascabencana benar-benar dapat bermanfaat dalam konteks membantu para korban keluar dari penderitaan .Dari sini harapannya para korban tidak berlama lama menderita dan segera dapat melupakan trauma untuk kembali bekerja tanpa tangis (11) -- Amirudin, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Undip, Wakil Ketua KPID Jateng HexWeb XT DEMO from HexMac International |