| Senin, 07 Agustus 2006 | NASIONAL |
Kekeringan, Pemprov Siapkan Tanggap DaruratSEMARANG - Untuk mengatasi kekeringan di sejumlah daerah, Pemprov Jateng menyiapkan skenario tanggap darurat. Gubernur Jateng Mardiyanto mengemukakan, bantuan pemprov untuk masyarakat yang mengalami kekeringan akan disalurkan melalui Bakorlin yang berada di sejumlah wilayah. ''Untuk mengatasi kebutuhan air para petani, kami juga mengantisipasi dengan membangun sumur-sumur pantek,'' kata Gubernur seusai memberi jawaban atas pandangan fraksi di Gedung Berlian, baru-baru ini. Sementara itu, Wagub Ali Mufiz MPA mengungkapkan, 300 sumur pantek akan dibangun Pemprov di seluruh daerah yang dilanda kekeringan. Guna mengantisipasi hal itu, pihaknya telah merencanakan langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengantisipasi kekurangan air bagi warga untuk 2006 dan 2007. ''Yang menjadi pijakan Pemprov adalah hasil analisis BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Memang, diperkirakan hujan baru akan terjadi pada Oktober. Sejumlah antisipasi telah kami lakukan,'' ujarnya. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang menjadi fokus perhatian Pemprov adalah kebutuhan untuk pertanian, pembangkit listrik (PLTA), dan kebutuhan air untuk rumah tangga. Selain pembangunan sumur pantek, Pemprov menyarankan kepada para petani untuk memperhatikan pola tanam. Dalam musim kemarau semacam ini, diharapkan tidak menanam tumbuhan yang banyak membutuhkan air. Adapun dalam pengelolaan air waduk yang volumenya terus berkurang, Pemprov telah berkoordinasi agar dilakukan penjadwalan. Gagal Panen Sementara itu, Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Jateng Ir Sri Narwanti menyatakan, kekeringan yang melanda Kabupaten Pekalongan, Brebes, Tegal, Pemalang, Sragen, Blora dan Kabupaten Semarang dikhawatirkan akan mengakibatkan gagal panen. Berdasarkan data yang dihimpun BPTPH Jateng, jumlah tanaman pangan yakni padi dan jagung yang kekurangan air di wilayah Jateng hingga awal Juni 2006 mencapai 1.042 hektare. Diperkirakan lahan pertanian yang mengalami kekeringan akan terus terjadi hingga Oktober. Lahan pertanian yang mengalami kekeringan terparah berada di Kabupaten Tegal dan Brebes. Di Kabupaten Tegal, tercatat 337 hektare sawah yang tersebar di empat kecamatan telah mengalami kekeringan, meski dengan skala ringan sampai dengan parah. Di Brebes ada 305 hektare, Sragen 113 hektare sawah yang ditanami padi juga mengalami kekurangan air. Khusus Blora, sebanyak 113 hektare tanaman jagung juga mengalami kekurangan air. Tanaman-tanaman yang terancam gagal panen adalah produksi pertanian berupa padi, jagung, dan tanaman lain. (H7,G17-60v) |