logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 NASIONAL
Line

Pantura Dipasang Pemantau Beban

JAKARTA - Departemen Pekerjaan Umum (DPU) akan memasang tujuh alat weight in motion pada berbagai tempat di Indonesia. Salah satunya akan dipasang di Patok Besi, Subang, jalur pantura Jawa.

Alat buatan Inggris itu secara otomatis akan mengukur berat kendaraan yang lewat serta konfigurasinya. Hal ini dikemukakan Pemimpin Induk Pelaksanaan Pembangunan Jalan Pantura Jawa Purnomo di Jakarta, Sabtu (5/8).

Alat otomatis yang akan dipasang di jalan ini berbentuk kabel namun ukurannya pendek. Dengan begitu, ketika kendaraan melintas, alat yang seperti karet ini akan secara otomatis menunjukkan beban kendaraan yang lewat melalui komputer.

''Kemudian, hasil yang diperoleh dari weight in motion ini bisa dijadikan pertimbangan perencanaan untuk mendesain jalan agar dapat mendukung beban yang ada. Sebab, dengan adanya alat tersebut bisa diketahui kondisi di lapangan,'' paparnya.

Selain alat pengukur berat kendaraan itu, Departemen PU juga telah memasang alat otomatis penghitung jumlah arus lalu lintas di Sukamandi dan Jati Barang.

Dengan adanya alat ini yang dipasang terus-menerus, jumlah kendaraan yang melintas bisa dipantau. Purnomo mengatakan, selama ini jumlah kendaraan yang lewat jalur pantura rata-rata setiap hari 30.000 buah.

Inovasi Teknologi

''Saat ini beberapa ruas jalur pantura mengalami perbaikan baik yang merupakan kegiatan rutin, berkala maupun peningkatan agar jalan tetap dalam kondisi mantap,'' ujarnya.

Persiapannya, lanjut dia, meliputi inovasi teknologi yang terdiri atas enam hal. Pertama, pengembangan sistem manajemen mutu. Kedua, perubahan sistem penanganan pemeliharaan dari sistem kontrak jangka pendek menjadi swakelola atau performance base contract (kontrak performasi/kinerja). Untuk kontrak performasi jalan dilakukan minimal lima tahun dan akan diuji coba terlebih dahulu. Ketiga, penggunaan pengerasan rigid namun ini bukan solusi terakhir.

Keempat, pengembangan teknologi recycling terhadap pengerasan yang rusak menjadi base dan stabilisasi tanah dasar dengan semen dan batu kapur.

Kelima, penggantian lantai jembatan rangka dari beton menjadi pelat baja. Keenam, pengembangan asbuton ganular (75% batu kapur, 25% aspal) menjadi aspal murni (100% aspal).

''Dengan teknologi recycling, aspal bekas dari jalan yang rusak dapat membuat pengerasan mendekati beton tetapi jalan lebih lentur. Dengan demikian, bila tanah dasarnya turun maka aspalnya ikut turun. Jika menggunakan beton, tanah dasarnya turun, akan retak sehingga jalan beton tersebut harus dibongkar,'' paparnya. (bn-60j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA