logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 NASIONAL
Line

Lebanon Tolak Draf Resolusi PBB

  • Roket Hizbullah Tewaskan 11 Tentara Israel

BEIRUT - Pertempuran antara tentara Israel dan pe-juang Hizbullah semakin sengit Minggu kemarin. Roket-roket Hizbullah kemarin menewaskan 11 serdadu Israel. Sebaliknya, serangan rudal Israel menewaskan 18 warga sipil Lebanon.

Pada saat yang sama, Lebanon menolak rancangan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang telah disepakati Amerika Serikat dan Prancis. Alasannya, draf resolusi itu sangat memihak Israel.

Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri mengatakan draf resolusi itu sama sekali tidak menyerukan penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah Lebanon. Rancangan resolusi itu juga mengabaikan hak warga sipil Lebanon untuk kembali ke rumah yang mereka tinggalkan sejak perang meletus 12 Juli lalu.

Hizbullah kemarin kembali menghujani wilayah Israel dengan roket-roket Katyusha. Kelompok gerilyawan Lebanon itu menembakkan sedikitnya 140 roket dalam 15 menit. Hizbullah selama konflik ini telah menembakkan lebih dari 2.700 roket ke wilayah Israel.

Sebuah roket mendarat di pintu masuk wilayah pertanian Kfar Giladi, tempat berkumpulnya pasukan cadangan Israel. Sebelas personel tentara cadangan Israel tewas seketika akibat serangan roket itu.

''Roket itu menghantam kerumunan orang,'' kata Dan Ronen, kepala kepolisian setempat. Sejauh ini, 48 tentara Israel telah tewas akibat serangan Hizbullah.

Para pemimpin Hizbullah menegaskan tekad mereka untuk terus berjuang sampai tentara Israel meninggalkan Lebanon selatan.

Tangkap Gerilyawan

Di lain pihak, tentara Israel mengklaim telah menangkap gerilyawan Hizbullah yang terlibat dalam aksi penculikan terhadap dua serdadu negara Yahudi itu pada 12 Juli lalu.

Jet-jet tempur Israel kembali melakukan serangan membabi buta ke empat desa di Lebanon selatan. Gempuran udara itu menewaskan sedikitnya 18 warga sipil. Puluhan orang terluka akibat gempuran udara itu. Seorang prajurit Lebanon tewas dalam serangan udara Israel di Kota Tyre. Hizbullah mengumumkan tiga anggotanya gugur kemarin. Dengan demikian, jumlah korban di pihak Hizbullah sudah mencapai 52 orang.

Beirut juga diguncang serangan udara di daerah pinggiran yang mayoritas penduduknya muslim Syiah. Pasukan perdamaian PBB di Lebanon selatan mengatakan, bom mortir yang ditembakkan oleh Hizbullah melukai tiga tentara perdamaian China.

Kemarin, pesawat Israel menembakkan rudal ke truk sipil di seberang konvoi bantuan kemanusiaan PBB. Juru bicara PBB mengatakan, sedikitnya dua warga sipil tewas akibat serangan rudal Israel itu.

''Truk di seberang konvoi PBB itu bergerak menuju Beirut. Saat dihantam rudal, truk itu berada sekitar 40 meter dari konvoi PBB,'' kata juru bicara PBB Khaled Mansour.

PBB mengecam serangan Israel yang menewaskan warga sipil dan membahayakan bantuan kemanusiaan itu. PBB dan kelompok-kelompok kemanusiaan sebelumnya mengeluhkan gempuran dan blokade laut Israel yang mengganggu upaya-upaya kemanusiaan.

Serangan-serangan itu terjadi beberapa jam setelah AS dan Prancis menyepakati draf resolusi PBB untuk menghentikan perang di Lebanon. Draf resolusi itu menyerukan gencatan senjata.

Namun rancangan resolusi itu memberikan Israel peluang untuk melakukan operasi militer bersifat defensif terhadap Hizbullah. Dokumen itu juga tidak menyerukan penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Israel Mendukung

Secara resmi pemerintah Israel belum berkomentar mengenai draf resolusi itu. Namun beberapa pejabat tinggi dan media Israel telah menyatakan dukungannya.

Dalam rapat kabinet, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengatakan tidak akan berbicara sampai draf resolusi itu benar-benar disahkan. Dewan Keamanan diperkirakan akan mengadakan voting mengenai rancangan resolusi itu Senin atau Selasa waktu New York.

Media Israel menyatakan, draf resolusi itu memberikan Israel peluang untuk melakukan operasi militer guna membalas serangan Hizbullah. Israel juga tidak perlu menarik 10.000 tentaranya dari Lebanon selatan.

Negara Yahudi itu sebelumnya menyatakan akan mempertahankan keberadaan tentaranya di Lebanon selatan sampai pasukan internasional mengambil alih pengamanan. Prancis disebut-sebut bakal memimpin pasukan internasional itu.

Beirut menganggap kehadiran pasukan Israel itu sebagai bentuk pendudukan kembali Israel terhadap Lebanon. Nabih Berri mengatakan, perdamaian tidak mungkin terwujud apabila serdadu Israel masih bercokol di wilayah Lebanon.

Sementara itu Amirul Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustad Abubakar Ba'asyir meminta kepada pemerintah Indonesia agar mau membukakan pintu kepada para mujahid yang akan berangkat ke Lebanon. Menurut dia, jalan satu-satunya memerangi Israel yaitu dengan cara berperang. Untuk itu, kata dia, jika permintaan tersebut disetujui, maka dirinyalah yang paling depan untuk menghadapi pasukan Israel.''Itu suatu harapan bagi kami, para mujahidin untuk dapat mati syahid,'' tegas dia kepada sejumlah wartawan ketika berada di Kota Pekalongan, Minggu (6/8).

Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo itu datang ke Kota Batik dalam rangka mengikuti kegiatan tablig akbar yang digelar DPW FPI Pekalongan di Kelurahan Kraprak Kidul. Kedatangannya disambut oleh Dewan Syuro DPP FPI , Said Sungkar. (H4,rtr-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA