logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 NASIONAL
Line

Ribuan Umat Kutuk Israel


KUTUK ISRAEL: Sejumlah tokoh umat beragama bersama ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat mengadakan aksi solidaritas untuk Palestina dan Lebanon di depan Gedung PBB, Jakarta, Minggu (6/8). Mereka juga mengutuk agresi militer Israel ke Lebanon. (57v)

LANGIT cerah di Minggu pagi Jakarta menemani aksi unjuk rasa puluhan ribu umat Islam yang turun ke jalan menentang agresi militer Israel ke Libanon dan Palestina yang telah berlangsung tiga pekan.

Sejak pukul 10.00, massa yang dikoordinasi Rakyat Indonesia Bersatu untuk Perdamaian (RIB-UP) sudah berkumpul di bundaran HI Jakarta dan mulai pukul 13.00 bergerak menuju ke depan kantor PBB di Jalan MH Thamrin Jakarta, kemudian depan Istana Merdeka Jakarta, dan depan kantor Kedubes AS di Jakarta.

Massa berasal dari Muhammadiyah, kalangan santri Daarut Tauhid, Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), dan PKS yang datang dengan menggunakan iring-iringan bus sehingga tak urung memacetkan arus lalu lintas sepanjang Jalan Soedirman.

Akibatnya, bus Transjakarta pun sama sekali tak berkutik. Tidak hanya kalangan dari massa Islam, aktivis HAM seperti Kontras, Elsam, dan LBH juga turut memeriahkan aksi unjuk rasa terhadap Israel tersebut. Para pengunjuk rasa mengusung berbagai spanduk mulai dari ukuran kecil hingga raksasa dan bendera Palestina.

Isinya hanya satu suara. Yaitu mengecam serangan Israel ke Palestina. Bahkan, terselip di antara puluhan ribu pengunjuk rasa tersebut, 12 perempuan Palestina dengan memakai pakaian serbahitam tak mau ketinggalan mengecam tindakan Negeri Yahudi itu. ''Israel penjahat perang. Mereka dan Amerika Serikat (AS) yang sebenarnya teroris,'' tandas salah seorang perempuan Palestina dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.

Unjuk rasa yang dinamai Aksi Sejuta Umat Islam tersebut dihadiri beberapa tokoh Islam Indonesia, antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Ketua MUI Amidhan, Tuty Alawiyah, Romo Peni dari Konferensi Wali Gereja Indonesia, serta tokoh agama Konghucu dan Buddha.

Harus Dihukum

Tak ketinggalan tokoh politik, seperti Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua DPD Laode Ida, dan Komaruddin Hidayat pun ikut menambah semarak aksi tersebut. ''Agresi Israel ke Lebanon merupakan kejahatan kemanusiaan. PBB seharusnya menjatuhkan sanksi terhadap mereka dan harus dihukum dan dinyatakan sebagai penjahat perang,'' tegas Hidayat Nur Wahid dalam orasi di depan kantor perwakilan PBB, kemarin.

Dia meminta agar badan dunia itu tidak melindungi Negeri Zionis tersebut. ''Kami masih percaya PBB adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan Perserikatan Bangsat-Bangsat.''

Seusai berorasi, Hidayat bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan pemimpin Ponpes Daarut Tauhiid Aa Gym menyerahkan pernyataan sikap yang berisi kecaman terhadap tindakan Israel kepada perwakilan WHO Peter Zen. ''Kami minta AS menghentikan dukungan kepada Israel dan tidak berstandar ganda,'' ujarnya.

Dalam aksi tersebut, polisi menyita replika basoka yang dibawa seorang demonstran saat berunjuk rasa di depan kantor Kedubes AS. Replika tersebut terbuat dari pipa paralon dan dibungkus dengan kertas koran yang dicat hitam sehingga sekilas mirip basoka asli.

''Kalau dilihat masyarakat dunia, kan itu seperti beneran dan dianggap Indonesia bebas bawa senjata. Jadi, kami sita,'' kata Kapolres Jakpus Kombes Pol Bambang Hermanu di depan Kedubes AS. Sebanyak 2.000 aparat kepolisian Polda Metro Jaya disiagakan untuk mengamankan aksi unjuk rasa tersebut.

Sayang, Dubes B Lynn Pascoe menolak untuk menemui perwakilan pengunjuk rasa.

''Ini kami catat sebagai perilaku yang tidak mengindahkan kerja sama internasional,'' ungkap Din di depan Kedubes Negeri Paman Sam itu saat matahari mulai condong ke barat.

Mendukung

Secara terpisah, Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir mengatakan, PAN mendukung pemberian bantuan seperti pangan, obat-obatan, dan keuangan. Bahkan, seharusnya Indonesia mengirim tentara perdamaian.

''Kami mendorong dan mendukung negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI untuk mengirimkan pasukannya. Namun saya khawatir jika kita mengirim masyarakat sipil bersenjata atau relawan jihad, mereka tidak mengerti dan menguasai medan tempur. Akibatnya, yang terjadi adalah mereka justru hanya merepotkan dan menyulitkan,'' paparnya.

Selain itu, dia melihat negara-negara Arab juga tidak mengirimkan milisi sipil bersenjata ke Palestina dan Lebanon. ''Jadi menurut saya, pemerintah harus bisa mengirimkan TNI ke sana melalui OKI. Ini untuk meindungi rakyat sipil dari serangan Israel.''

Namun, dia tidak sependapat dengan adanya seruan untuk memboikot produk AS dan Israel. Alasannya, sudah otomatis dilakukan warga muslim yang bersimpati dengan Lebanon dan Palestina. ''Kita sebagai bangsa yang memiliki hati nurani, begitu melihat agresi Israel yang membabi buta dan brutal seharusnya secara pribadi otomatis memboikot produk AS dan Israel.''

Akan tetapi dia menekankan, agar tidak serta-merta menyalahkan AS secara total. Sebab di negeri adidaya itu sendiri banyak warganya yang menolak serbuan perang ke Lebanon. ''Pemerintahnya saja yang kita salahkan, bukan rakyatnya.''

Dia juga tidak setuju jika ada pemboikotan mata uang dolar. Sebab, hal itu sulit dilakukan. ''Ini akan mengganggu perekonomian nasional yang sudah mulai tumbuh,'' imbuhnya. (H27,H28-48j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA