| Senin, 07 Agustus 2006 | SEMARANG |
Rp 41 Miliar untuk Pondok Hafalan AlquranALUNAN shalawat dan nasyid terus dinyanyikan, seiring kedatangan ribuan orang secara bergelombang. Doa tahlil dan manakib juga dibacakan secara berjamaah. Umat muslim yang datang dari berbagai penjuru daerah di Kabupaten Semarang dan beberapa kota di Jateng itu menuju tempat yang telah disediakan. Di tengah riuh rendah hadirin, di sisi bangunan lain pondok tersebut, seseorang juga terus membaca Alquran dengan khusyuk. Ratusan santriwati dan petugas pondok lain sibuk mempersilakan ribuan tamu untuk menikmati aneka menu makanan yang tersaji secara prasmanan. Sepenggal suasana itu mewarnai gegap gempita acara Haflah Tasyakuran Khatmil Quran I di Pondok Pesantren Miftahul Jannah Pujiono CW di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu (5/8). Acara ''pindahan'' ratusan santri dari rumah Pujiono di Dusun Lendoh, Bedono, menuju pondok baru (tidak jauh dari Pasar Bedono) tersebut, semakin meriah karena dihadiri para kiai dan ulama terkenal di Jateng. Seperti KH Abdurrahman Chudori dari Tegalrejo, Magelang, KH Wahab Mahfudhi (Mranggen, Demak), dan KH Muhaimin Gunardo (Parakan, Temanggung). Dalam acara tersebut, KH Abdurrahman Chudori mendapat kesempatan memberikan siraman rohani. Beberapa pejabat seperti Komandan Kodim 0714 Letkol Inf Agus Subiyakto dan Camat Jambu Drs Heru Subroto juga turut nyengkuyung acara yang bertepatan dengan hari lahir HM Pujiono CW, selaku pemilik pondok. ''Pada kesempatan ini kami meminta doa restu para hadirin, semoga pondok pesantren yang mencetak para penghafal Alquran ini dapat bermanfaat. Pondok ini gratis dan siap menampung puluhan ribu santri. Kalau empat tahun lalu kami hanya menerima santri putri, sekarang menerima santri putra,'' kata Pujiono. Rp 41 miliar Saat ini tercatat lebih dari 300 perempuan yang ingin menjadi hafizah (penghafal Quran) di pondok salaf tersebut. Pujiono, selaku bos PT Sinar Lendoh Terang (PT Silenter) mengungkapkan, pihaknya telah mengeluarkan dana Rp 41 miliar untuk Yayasan Miftahul Jannah. ''Kami serius ingin mencetak generasi beriman dan bertaqwa kepada Allah. Karena itu, jika seseorang belajar menghafal di pondok tersebut tidak diperbolehkan menyambi kegiatan lain. Sebab, hasilnya kurang maksimal,'' tutur suami Hj Umi Hani. Menurut rencana, sekitar satu kilometer dari pondok tersebut dibangun perguruan tinggi bertaraf internasional. ''Kehadiran pondok ini membantu pemerintah dalam bidang pendidikan. Sebab, ilmu pengetahuan tanpa didasari pengetahuan dan ilmu agama yang baik, dikhawatirkan akan salah arah,'' kata Camat Jambu, Heru Subroto. (Rony Yuwono-37s) |