| Senin, 07 Agustus 2006 | SEMARANG |
Haul Agung Ke-503 H Sultan FatahBencana Alam Bukan Azab, melainkan CobaanDEMAK- Ribuan umat Islam dari berbagai daerah menghadiri puncak peringatan Haul Agung Ke-503 H Kanjeng Sultan Raden Abdul Fatah Al Akbar Sayyidin Panatagama, yang digelar di Masjid Agung Demak, Sabtu (5/8). Kegiatan yang baru diadakan untuk kali ketiga itu sebagai rangkaian memperingati wafatnya Sultan Fatah, raja pertama Kerajaan Islam Demak Bintoro di Pulau Jawa. Acara berupa tahlil, manaqib, dan pengajian akbar yang diisi Ketua Umum MUI Jateng Habib Luthfi bin Ali Yahya dari Pekalongan. Hadir dalam acara yang dimulai pukul 19.00 itu, Gubernur H Mardiyanto, Bupati Demak H Tafta Zani, Kakandepag Drs H Bambang Sugito TH, jajaran Muspida Demak, takmir besar Masjid Agung Demak KH Muzayyin Munawar, dan para pemangku makam wali se-Jawa. Ribuan warga yang memadati halaman masjid peninggalan Walisongo hingga alun-alun, tampak khusyuk mengikuti tahlil yang dipimpin Habib Syekh dari Solo. Sebelumnya, Gubernur bersama bupati, wakil bupati, dan muspida berangkat dari pendapa berjalan kaki diiringi penabuh rebana. Dalam sambutannya, Bupati mengajak semua masyarakat, ulama, ataupun pemerintah untuk bekerja sama secara sinergi membangun daerah. Sultan Fatah merupakan contoh terdekat yang bisa dijadikan panutan, yakni sebagai raja sekaligus ulama. Pemerintahan yang dikembangkan Kanjeng Sultan mendasarkan pada tegaknya akidah Islam dan kesejahteraan masyarakat. Perjuangan itu membuahkan hasil. ''Kami harapkan pemerintahan desa, kecamatan sampai kabupaten bersama-sama ulama memajukan daerah. Jauhkan perbedaan dan lihatlah ke depan, banyak tantangan berat yang harus dihadapi bersama,'' ajaknya. Sedang Dicoba Sementara itu, Habib Luthfi bin Ali Yahya mengungkapkan, Sultan Fatah termasuk Walisongo generasi keempat. Keberadaannya merupakan bukti kesejarahan Islam di tanah Jawa. Memelihara bukti-bukti sejarah itu penting bagi perjalanan penyebaran Islam. Karena pentingnya arti tersebut, Allah mempertemukan Nabi Muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya ketika Isra Mikraj. Habib Luthfi mengimbau umat untuk tidak tenggelam dalam duka serta tidak terlalu risau menerima berbagai cobaan yang terjadi di bumi nusantara. Menurut kiai kharismatik ini, bencana gempa dan tsunami bukanlah azab dari Tuhan, melainkan cobaan yang sedang diujikan kepada bangsa ini.(H1-37s) |