logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 SEMARANG
Line

Panen Padi di Gubug Paling Bagus Selama 2006

GROBOGAN- Petani di beberapa desa di Kecamatan Gubug, Tanggungharjo, dan Tegowanu, Grobogan, panen besar-besaran. Kualitas hasil panenan cukup bagus dibandingkan dengan musim penghujan sebelumnya.

Per hektare rata-rata menghasilkan tujuh ton gabah kering panen (GKP) atau per hektare lebih besar dua ton dari hasil panen musim penghujan. Sebab, musim tanam (MT) II lalu, rata-rata per hektare hanya mencapai lima ton GKP.

Beberapa kelompok tani di daerah itu menilai panen musim kemarau ini merupakan hasil terbaik selama musim panen padi 2006. Tamrin (51), anggota kelompok tani Gubug mengatakan, panen kemarau ini cukup menjanjikan.

Selain berkualitas bagus dan bebas hama, juga harga eceran gabah per kilo mencapai Rp 2.200. Harga ini lebih tinggi Rp 470/kg dari harga dasar pembelian pemerintah (HDPP). Sesuai dengan Inpres 13/2005, harga dasar gabah ditentukan Rp 1.730/kg.

Jumlah Besar

Dia mengatakan, gabah laku tinggi karena rendemennya kurang dari 25%, butir hampa, butir hijau, dan mengapur kurang dari 10%, serta butir merah kurang dari tiga persen. Dengan kondisi itu, tengkulak lokal dan luar daerah tertarik membeli dalam jumlah besar.

Sebab, bila diselep dipastikan menghasilkan beras utuh dan berbobot tinggi, meski harganya tinggi dibandingkan dengan gabah hasil panen musim penghujan lalu. Namun, kemarin harga itu dikabarkan menurun Rp 50-Rp 100/kg, sehingga tinggal Rp 2.150/kg-Rp 2.100/kg.

Penurunan tersebut diduga akibat pedagang besar di Grobogan tidak membeli gabah dan beras dalam jumlah besar seperti sebelumnya.

Dia dan beberapa anggota kelompok tani membenarkan tingginya harga gabah menyebabkan harga beras di pasar-pasar tradisional langsung naik tinggi. Semula harga beras medium IR 64 Rp 3.850/kg, kini naik menjadi Rp 4.000.

Anehnya, kenaikan harga beras secara sepihak itu tak mampu diredam melalui pengadaan beras raskin yang mencapai ribuan ton dalam setiap bulan.

Padahal, beras untuk masyarakat miskin tersebut hanya ditebus penerimanya di Perum Bulog Sub Divre 1 Semarang Rp 1.000/kg. Setiap keluarga miskin rata-rata mendapatkan 20 kg. Namun, harga beras di pasar-pasar tradisional masih tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Grobogan Edhie Sudaryanto mengatakan, baik dari segi harga maupun produksi, panen kemarau di beberapa daerah tersebut paling bagus dalam musim panen padi 2006.

Sebab, per hektare rata-rata menghasilkan tujuh ton GKP. Harganya pun jauh di atas HDPP. Itu sebabnya Perum Bulog tak berani membeli hasil panen tersebut.

Panen di beberapa daerah itu bagus, karena ketersediaan air cukup. Sebab, Bendung Glapan terus memasok, meskipun jaringan Kedungombo telah mengeringkan irigasinya sejak 1 Agustus lalu. (A23-37s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA