logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 SEMARANG
Line

Sertifikasi Profesi Penting untuk Tenaga Kerja

DALAM era globalisasi, persaingan tenaga kerja makin ketat. Tidak hanya dengan sesama tenaga kerja di dalam negeri, persaingan berat adalah masuknya tenaga asing ke Indonesia. Maka, sertifikasi profesi sangat penting untuk menunjukkan seseorang mempunyai keahlian dalam bidang yang ditekuninya.

Itulah sebabnya, pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja kini menyosialisasi arti penting sertifikasi profesi. Bagi tenaga kerja yang memiliki sertifikat profesi berarti dia mempunyai kualifikasi ''ahli di bidang yang menjadi kompetensinya''. Misalnya ahli di bidang otomotif, logam, mesin, dan sebagainya.

''Sertifikasi naker semacam ini sudah lama berlaku di negara maju. Saat saya belajar di Australia beberapa waktu lalu, ada seorang doktor dari Vietnam tak bisa memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Sebab, dia tidak memiliki sertifikat profesi,'' kata Kepala Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Semarang, Drs Edy Dawud MSi, di kantornya Jl Sudiarto (Majapahit) 118 Semarang.

Tidak hanya tenaga kerja, produk-produk yang memasuki dunia global juga harus memiliki sertifikat. Untuk pembuatan mebel misalnya, kayunya harus jelas asalnya (legal), yang dibuktikan sertifikat (dokumen). Demikian pula setelah kayu menjadi barang dagangan (produk), kualitasnya harus bisa dijamin. Jika tidak, konsumen tidak mau membelinya.

Ujian Profesi

Karena itu, tutur Edy, yang menjabat Kepala BLKI Semarang sejak dua bulan lalu, nantinya segenap lulusan dari lembaga yang dipimpinnya tersebut diarahkan untuk memiliki sertifikat profesi berstandar nasional/internasional. Caranya, setelah menyelesaikan pelatihan, mereka mengikuti ujian profesi yang dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

LSP merupakan lembaga independen yang diberi kewenangan untuk menguji dan memberi sertifikat profesi. LSP berkedudukan di Jakarta, mencakup banyak kejuruan. Namun yang sudah punya cabang di Semarang baru LSP otomotif, logam, dan garmen. Meskipun berkedudukan di Jakarta, ujiannya bisa diadakan di BLKI Semarang.

''Kami memang terus berbenah. Tidak hanya melengkapi peralatan-peralatan pelatihan, eselonisasi BLKI juga diupayakan meningkat dari eselon III menjadi II. Secara fisik pun, BLKI Semarang siap dan tinggal peningkatan di sana-sini. Seperti SDM, program, dan prasarana.''

Namun sekalipun ujian profesi diadakan di Semarang, BLKI tak ikut sebagai tim penguji. Semua pengujinya dari luar BLKI, sehingga dijamin ujian berlangsung fair.

Dengan sertifikat profesi, Edy meminta calon pengguna dari dunia usaha tak perlu ragu. (Sudarto-18s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA