| Senin, 07 Agustus 2006 | SEMARANG |
Bertekad Bangkitkan Karang Taruna JatengSEMARANG- Putut Yono Baskoro SH CAd (33) terpilih menjadi Ketua Umum Karang Taruna Jateng periode 2006-2011. Dari 37 suara yang diperebutkan, dia meraih 19 suara, menyisihkan Yoyok Sukawi yang hanya memperoleh 16 suara. Dua suara lagi abstain. Pemilihan ketua umum tersebut merupakan salah satu agenda penting Temu Karya Daerah Karang Taruna Provinsi, yang digelar di Hotel Ina Dibya Puri, Jalan Pemuda 11 Semarang, 4-6 Agustus 2006. Dalam pencarian bakal calon sebenarnya muncul tiga kandidat, yaitu Putut (Klaten), Yoyok (Semarang), dan Sapto (Solo). Dalam putaran pertama pemilihan calon yang diikuti 35 wakil karang taruna kabupaten/kota se-Jateng tersebut, Putut meraih 21 suara, Yoyok (11), Sapto (satu), dan abstain (satu). Dengan demikian, yang berhak maju menjadi kandidat putaran kedua adalah Putut dan Yoyok. Seusai pemilihan, beberapa peserta yang berhasil ditemui Suara Merdeka menyatakan tidak puas dan kecewa. Menurut mereka, hasil pemilihan ketua umum tersebut dikotori adanya money politics. "Kami punya bukti kalau satu suara dibeli dengan harga Rp 1 juta. Pemilihan ketua umum kali ini menggunakan cara-cara kotor," tandas seorang peserta yang tidak bersedia disebutkan namanya. Membantah Keras Sementara itu, seorang panitia yang juga tidak bersedia disebutkan identitasnya menuturkan, hasil itu merupakan kerja maksimal yang dapat dipersembahkan kepada para peserta. "Namanya perjuangan ya harus ada pengorbanan. Kami berusaha menyelamatkan organisasi dan menghindari terjadinya keributan," katanya. Menanggapi adanya money politics , Putut membantah keras tuduhan tersebut. Dia mengaku justru ada beberapa peserta yang datang kepadanya tawar-menawar harga suara. "Uang dari mana saya sebanyak itu? Saya hanya menyatakan siap maju terus kepada mereka," tuturnya. Setelah terpilih menjadi ketua umum, Putut menjanjikan beberapa langkah penting untuk mengangkat karang taruna dari keterpurukannya selama ini. Yaitu berkonsolidasi pengurus kabupaten seluruh Jateng, menyatukan visi-misi, serta merealisasi semua potensi yang ada di masing-masing kabupaten, baik sumber daya manusia (SDM) maupun sumber daya alam (SDA). Dia mencontohkan, Kabupaten Temanggung sebagai daerah yang kaya akan SDA keramik dan semen. Namun hingga saat ini belum diolah dan dimanfaatkan secara maksimal. "Kami akan berusaha mencarikan investor, baik dari dalam maupun luar negeri," tuturnya. Dia menambahkan, langkah tersebut tidak bisa langsung frontal, karena perlu melibatkan jumlah investasi besar. Namun paling tidak hasilnya dapat dinikmati perusahaan-perusahaan lokal. Sebagai Objek Sementara itu, mantan Ketua Karang Taruna Jateng Ir Bambang Siswanto SH M Hum mengatakan, organisasi pemuda itu lebih banyak berperan sebagai objek dari pada subjek. "Kami masih kurang mandiri dan menjadi organisasi yang hanya disantuni," ungkap dia. Menurut dia, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh pengurus baru periode 2006-2011. Untuk dapat mengubah peran sebagai subjek, pengurus harus mampu meningkatkan profesionalisme diri sendiri dan sumber daya manusia (SDM) yang ada dalam rangka menjalankan roda organisasi. Selain masalah dana, dia menjelaskan, untuk menjadi organisasi yang mandiri, Karang Taruna dihadapkan pada kendala SDM. Anggotanya heterogen yaitu mulai dari tamatan SD hingga sarjana. Yang penting mereka berusia 11-45 tahun. "Keanggotaan kami menganut stelsel pasif, dimana pemuda dan pemudi yang berusia 11-45 tahun tanpa mendaftarkan diri, secara otomatis merupakan anggota Karang Taruna," ujarnya. Ketua Karang Taruna Kebumen Wilujeng Ribudiyanto, mengungkapkan, kepengurusan lama (periode 2001-2006) tidak banyak melakukan action. Padahal, menurut dia, dengan anggotanya yang hingga ke desa-desa, memiliki potensi untuk menjadi organisasi yang besar dan maju. "Ketua dan pengurus harus bisa melayani dan memiliki komitmen terhadap masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat," tuturnya. (H10-18s) |