| Senin, 07 Agustus 2006 | SEMARANG |
Banyak Pompa Dinilai Boros
SEMARANG- Rencana Pemerintah Kota Semarang menggunakan sistem banyak pompa dalam normalisasi Kali Tenggang, dinilai boros. Hal ini diungkapkan Ketua Program Studi Magister Teknik Sipil Undip, Dr Ir Suripin MEng. Karena itu, pompa yang digunakan sebaiknya berkapasitas seminimal mungkin, tetapi tetap efektif digunakan dalam proyek. "Untuk menekan biaya, sebaiknya memakai pompa berkapasitas kecil. Namun tetap efektif digunakan dalam mengatasi masalah pembangunan proyek itu,'' ungkap dia kepada Suara Merdeka, Minggu (6/8). Suripin menganggap penggunaan pompa berkapasitas kecil tetap mampu mengatasi permasalahan yang ada. Sebab, pompa dengan kapasitas kecil tersebut dilengkapi kolam tampung besar. "Air ditampung dulu di kolam, selanjutnya pengaliran dilakukan secara bertahap,'' ujar dia. Sementara, pakar hidrologi Unika Soegijapranata, Budi Santosa MT menilai drainase yang menggunakan sistem gravitasi tidak akan berfungsi secara optimal, jika diterapkan di daerah hilir. Sebab, di daerah ini elevasi tanah berada di bawah muka air laut (mal), sehingga air di daratan tidak mengalir ke laut. Dekat Laut Untuk mengoptimalisasi sistem saluran tersebut, Budi menyarankan pemasangan pompa diletakkan di saluran dekat muara laut. ''Memang sebaiknya pompa dipasang di dekat saluran menuju ke laut. Pompa ini berfungsi untuk mengangkat air, sehingga bisa mengalir ke laut,'' katanya. Bukan hanya pompa, melainkan juga untuk mengoptimalisasi fungsi saluran perlu pemasangan pintu air. Saat air pasang, pintu ditutup guna mencegah air masuk ke daerah yang dibebaskan dari banjir. ''Ketika air surut, pintu dibuka. Dengan demikian, air di dalam saluran mengalir ke laut,'' ujar dia. Dalam kondisi seperti itu, apakah perlu banyak pompa sebagaimana rencana Pemkot? Budi mengatakan, jumlah pompa tergantung pada daerah yang dibebaskan dari banjir. Jika daerah tersebut terbagi dalam subsistem kecil, tentu jumlah pompa yang dibutuhkan sedikit. "Pompa yang digunakan pun berkapasitas tidak terlalu besar.'' Pompa berkapasitas besar digunakan jika daerahnya luas. Pembuatan pompa itu membutuhkan biaya besar. Namun, dia menganggap biaya tersebut sebanding dengan manfaat yang bisa diperoleh. Di samping itu dalam pelaksanaannya, sistem ini membutuhkan perawatan dan pengoperasian yang baik. Dosen Jurusan Sipil Fakultas Teknik Unika Soegijapranata ini meragukan kemampuan pemerintah dalam melakukan perawatan dan pengoperasian secara baik. Melihat pengalaman lalu, hal itu tidak akan berjalan secara baik jika diserahkan pada pemerintah. "Lebih baik jika pengoperasian dan perawatan diserahkan pada warga. Itu akan lebih baik,'' tandasnya. (H31-18s) |