logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 KEDU & DIY
Line

Masyarakat Mulai Beralih ke Tanaman Hias Daun

TINGGINYA harga tanaman hias Anthurium atau Aglonema sering dikaitkan dengan keberuntungan pemiliknya. Siapa sebenarnya yang telah beruntung menjual satu lembar daun tanaman hias eksklusif itu Rp 500.000 - Rp 1 juta? Atau bijinya yang baru "cingip" Rp 150.000?

Pengusaha tanaman hias bisa mendapatkan untung besar jika mampu mengelola tekniknya secara benar sehingga tanamannya baik dan memiliki akses pasar yang luas, terutama jika bertemu dengan pembeli yang tergila-gila pada tanaman hias eksklusif tersebut. Apalagi bila tanaman itu memang indah dan tergolong langka.

Misalnya tanaman hias yang bernama Anthurium Germany Kipas. Daunnya mungkin berkesan biasa, hijau tua, seperti daun tembakau tapi lebih kaku.

Kalau tidak karena pengaruh sinar matahari pada masa perkembangannya, tanaman itu hanya akan tumbuh daunnya di satu sisi saja sehingga membentuk seperti kipas.

Keindahan kelompok Aglonema itu terletak pada warna daunnya yang belang-belang mozaik. Tanaman yang berdaun "basah" tersebut juga memiliki daun dengan campuran warna merah, cokelat, kuning, sedikit hijau, agak keputihan yang komposisi dan penampilannya seperti mozaik. Kelihatannya semakin beraneka warna dan kian unik kombinasinya, harganya semakin mahal.

Kabid Usaha Tani Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Ir Soekam menilai, apresiasi masyarakat terhadap tanaman hias daun eksklusif itu menepis rumusan para ahli taman konvensional yang menilai tingkat ekonomi seseorang dari tanaman yang ada di pekarangan depan atau sekitar rumahnya.

Para ahli taman menilai, kalau tingkat ekonomi masyarakat masih rendah, di pekarangannya akan ditanam tanaman pangan seperti umbi-umbian, buah, tanaman obat atau sayur yang kemudian populer dengan sebutan lumbung hidup dan apotek hidup.

Kalau tingkat ekonominya lebih tinggi atau medium atau kaya, di sekitar rumahnya akan ditanami tanaman hias daun seperti kuping gajah, rumput jepang, dan palem.

Namun bagi orang yang tingkat ekonominya paling tinggi, di sekitar rumahnya atau di pekarangannya akan ditanami tanaman hias bunga seperti anggrek, tulip atau Chrysant.

Itu mungkin berlaku pada zaman dahulu. Sekarang apresiasi masyarakat terbalik. Tanaman hias daun kini sedang "naik daun" menggantikan kedudukan tanaman hias bunga.

Indriani, pengusaha tanaman hias di Tegalrejo, menyebutkan harga induk tanaman Anthurium Germany bisa mencapai Rp 25 juta, sedangkan tanaman muda berdaun lima harganya sekitar Rp 1 juta.

Tiga tahun terakhir ini bisnis tanaman hias eksklusif berkembang di Kabupaten Magelang. Eko, warga Desa Bojong, semula konsentrasi pada Anggrek. Namun setelah melihat peluang bisnis itu, hampir separo dari kebunnya, yakni sekitar 2.000 m2, sekarang dipenuhi tanaman hias daun yang eksklusif.

Didik, pengusaha tanaman hias taman dari Candimulyo bahkan telah memulai diversifikasi tanaman hiasnya ke kelompok Aglonema.

Mujadin, pengusaha bibit buah di Salaman pun tidak mau ketinggalan. Setahun yang lalu, dia memfokuskan usahanya pada kebun buah klengkeng unggul yang berbuah sepanjang tahun. Namun kini konsentrasinya terpecah ke tanaman hias daun yang medianya khusus itu.

Padahal usaha buah klengkeng itu memiliki masa depan yang mungkin lebih stabil karena buah adalah dikonsumsi banyak orang. Selain itu, juga menghadapi persaingan dengan masuknya klengkeng impor yang terus membanjir ke pasaran di Indonesia. (Tuhu Prihantoro-39n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA