logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 KEDU & DIY
Line

Lahan Pasir Berbuah Bawang dan Cabai

ANEH, lahan pasir bisa berbuah bawang merah dan cabai? Tentu tidak, di Pantai Samas, Bantul, itu benar-benar menjadi kenyataan. Lihat saja di kawasan seluas sekitar empat hektare. Memang bukan tiba-tiba muncul bawang merah dan cabai, tetapi setelah ditanami ternyata lahan pasir bisa menghasilkan.

Beberapa tahun lalu lahan pasir dibiarkan begitu saja, karena kering dan gersang. Penduduk juga menganggap pasir tak bisa ditanami. Akibatnya, berhektare-hektare lahan terbengkalai tak ada yang mengolah. Sampai suatu ketika ada beberapa orang yang coba-coba menanami dengan cabai dan bawang merah.

''Mana mungkin lahan pasir bisa ditanami? Masa sih tanaman bisa hidup di lahan kering kerontang begitu?'' tanya sejumlah penduduk Pantai Samas. Pertanyaan semacam itu muncul beberapa tahun lalu.

Kini, tak akan ada lagi tanya demikian. Lahan pasir seluas sekitar 50 ha sudah berubah menjadi hijau oleh tetumbuhan. Ada cabai, bawang merah, dan ketela di sana. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah kehijauan. Bagai oase di padang gersang, begitu sebutan pas buat hijaunya dedaunan tanaman produktif tersebut.

Ketua Kelompok Tani Manunggal Pantai Samas, Subandi menceritakan memiliki 2.000 m2 lahan pasir yang ditanami bawang merah dan sayuran. Dalam setahun lahan pasirnya bisa ditanami tiga kali bawang merah dan sekali sayuran atau cabai. Hasilnya luar biasa, karena dalam sekali panen dia bisa meraup keuntungan jutaan rupiah.

Namun semua itu tidak diperoleh dengan mudah, karena petani lahan pasir seperti dia harus rajin-rajin merawat dan menyirami tanaman. Maklumlah, di tanah kering tersebut kalau tak rajin menyirami, tanaman bakal kering. Sehari, dia harus menyiram dua kali, pagi dan sore.

Sumur Renteng

Lantas, dari mana Subandi dan petani lain bisa memperoleh air untuk menyirami tanamannya? Dulu itu menjadi persoalan sulit, tetapi kini tak lagi. Para petani mengairi lahan dari air sumur renteng. Di setiap kotak lahan pertanian bisa terdapat belasan sampai puluhan sumur renteng dengan air berlimpah.

Dinamakan sumur renteng karena memang letaknya berurutan, sambung-menyambung antara sumur satu dan lainnya. Setiap sumur dihubungkan dengan pipa paralon yang bisa dibuka dan ditutup sesuai dengan keinginan pemilik.

Air sumur berasal dari sebuah telaga dan reservoir tak jauh dari lahan pertanian. Telaga itu mendapatkan air tawar dari sungai yang mengalir ke arah laut. Dengan mesin penyedot, air ditarik ke telaga kemudian disalurkan ke sumur-sumur petani.

''Setiap pagi petani menghidupkan pompa di reservoir. Setelah penuh, tinggal buka kran dan air akan mengalir deras,'' tutur Subandi.

Karena reservoir digunakan secara bersamaan, untuk biaya pemeliharaan mereka iuran. Tiap sumur renteng dikenai biaya Rp 2.000/ masa panen. Jadi, bisa dibilang sangat murah dan terjangkau.

Pemanfaatan lahan pasir, menurut Subandi, berawal pada 2000. Ketika itu harga sewa lahan pertanian semakin mahal. Dia dan kawan-kawannya lantas mencoba beralih ke lahan pasir di kawasan pantai dengan bantuan Dinas Pertanian Bantul. Sebagai uji coba, pasir dicampur tanah liat dan pupuk kandang kemudian baru ditanami. Ternyata hasilnya menggembirakan.

''Tahun 2003 sudah mulai kelihatan hasilnya, satu hektare lahan pasir mampu memanen 23-33 ton bawang merah. Luar biasa, karena dulu para petani di sini tidak membayangkan bisa panen di lahan pasir,'' paparnya. (Agung PW-39s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA