| Senin, 07 Agustus 2006 | EKONOMI |
BI Rate Mungkin Turun LagiJAKARTA-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia bulanan yang menurut jadwal akan digelar Selasa besok. Rapat diperkirakan akan membahas soal BI Rate, tren penurunan inflasi, rupiah yang stabil, respons Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang baik, suku bunga AS (Fed Fund Rate) stagnan, dan harga minyak dunia menurun. Pendapat itu dilontarkan pengamat perbankan Ryan Kiryanto kepada Suara Merdeka semalam saat dimintai tanggapan terkait agenda RDG Bank Indonesia bulanan. Menurut dia, dari sejumlah indikator yang ada saat ini, diharapkan RDG BI dapat kembali menurunkan BI rate sekitar 25-50 poin menjadi 11,75-12,0 poin. ''Itu yang diharapkan, tetapi jangan lebih besar dari angka itu,'' katanya. Dia berpendapat, turunnya BI rate akan diikuti turunnya LPS rate 25-50 poin yang diperkirakan juga akan menjadi 11,50 -11,75 poin. Selanjutnya, perbankan akan merespons segera dengan diturunkannya suku bunga simpanan (utamanya deposito) 50-100 poin menjadi 9-11 poin. Baru kemudian suku bunga kredit 50-100 poin juga menjadi sekitar 14-16%. Penurunan suku bunga bank itu, lanjutnya, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong sektor riil. Jadi akan lebih lagi bila beberapa paket kebijakan ekonomi, investasi dan keuangan diimplementasikan secara serius. Termasuk penanganan terhadap birokrasi yang high cost economy. Disertai keharusan adanya kepastian hukum dan konsistensi policy pemerintah. Lebih lanjut diungkapkan, dari penurunan BI rate, LPS rate dan bank rate, diharapkan dapat mendorong ekspansi kredit tahun ini menjadi sekitar 13-16% (masih di bawah target sebrlumnya yang 18%) melalui pemberian kredit baru atau new loan originated (NLO). Kemudian tambahan fasilitas kredit serta pencairan undisbursed loan (UL) yang mencapai Rp 150 triliun. ''Sejatinya, penurunan suku bunga tidak harus merujuk kepada BI rate. Jadi bank-bank yang sangat efisiensi dan menguasai pasar (leading banks) mestinya menjadi pioner penurunan suku bunga,'' jelas Ryan. (bn,wa-33) |