logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Agustus 2006 EKONOMI
Line

Bursa Motor Bekas

Beli Baru Angsuran Berat, Bekas pun Jadi

''SEBENARNYA mau beli yang baru, tapi setelah dihitung dengan cermat, ternyata angsurannya berat. Ya sudah, beli yang bekas saja. Yang penting masih bagus.'' Begitulah pengakuan Suryono, warga Grogol, Sukoharjo, saat melihat-lihat motor bekas di Bursa Motor Bekas Alun-alun Lor.

Hal yang sama dikemukakan Ny Marini yang datang bersama suaminya. Dia tertarik melihat-lihat bursa motor bekas itu, karena ingin membelikan anaknya yang sekolah di SMA di Solo.

''Janjinya kalau diterima di sekolah negeri, harus dibelikan sepeda motor. Ya sudah, saya belikan yang bekas saja, biar lebih murah,'' kata warga Tipes itu.

Bursa itu digelar selama empat hari mulai Kamis (3/8) lalu hingga Minggu lusa. Lebih dari 300 motor bekas dengan kondisi cukup bagus, dipajang di tengah Alun-alun Lor Keraton Surakarta.

''Pasar motor bekas di wilayah Surakarta masih cukup bagus. Di Solo saja, penjualan setiap bulan mencapai 200-300 unit. Kalau semester dua, bersamaan dengan Idul Fitri, Natal dan tahun baru, pasarnya bisa naik hingga 350 unit sebulan. Jadi bisnis ini masih cukup menguntungkan,'' kata Roy Sebayang, Ketua Panitia yang juga Manajer Pemasaran sebuah perusahaan leasing di Solo.

Meski harga motor baru dijual obral, masyarakat tetap saja banyak yang berburu motor bekas. Harganya jauh di bawah motor baru, kondisinya masih bisa disejajarkan dengan motor baru, dan fasilitas pembiayaan pun tidak berbeda dengan motor baru. Karenanya sejumlah dealer kecil terus bermunculan.

''Kalau dihitung jumlah dealer kecil mencapai puluhan. Sedangkan yang besar dengan stok motor bekas di atas 50 unit jumlahnya berkisar 10-20 dealer saja. Artinya, dengan munculnya banyak dealer kecil, kue bisnis motor bekas masih bisa dibagi. Apalagi permintaan masih tinggi,'' tandas dia.

Hitung Anggaran

Dia mencontohkan Suryono yang menghitung secara cermat anggaran keluarganya. Karena dirasa berat, dia memilih membeli sepeda motor bekas. Sebab meski iming-iming membeli motor baru demikian mudah, setelah dihitung ulang, tanggungan setiap bulannya justru berat.

''Saya masih harus menjatah anak yang kuliah di Yogyakarta, dan minta sepeda motor. Ada lagi kebutuhan untuk anak yang lain. Padahal pendapatan setiap bulan tidak pernah bertambah. Jadi kalau harus menanggung angsuran tiap bulan begitu besar, malah repot,'' ungkap dia.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada sepeda motor keluaran tahun 1996 yang masih cukup bagus kondisinya. Harganya tidak lebih dari Rp 6 juta. Itu pun hanya dibayar separuh, yang lainnya diangsur lewat lembaga pembiayaan. Tentu saja angsurannya pun relatif kecil, kurang dari Rp 125.000 sebulan.

''Kalau beli motor baru, uang mukanya memang kecil, malah cukup bawa Rp 1 juta sudah bawa pulang motor baru. Tapi tanggungan setiap bulan lebih dari Rp 500.000. Ya, berat. Makanya saya pilih yang bekas saja,'' tandas dia.

Mengenai kondisi motor, Roy menjamin tujuh dealer di Solo yang dia gandeng dalam pameran tidak akan mengambil risiko memamerkan motor jelek. ''Bahkan kami memberi jaminan, dalam dua minggu motor tidak enak dipakai, silakan dikembalikan. Kami akan mengganti dengan motor lain yang lebih bagus,'' kata dia. (Joko Dwi Hastanto-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA