logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 SALA
Line

Sulitnya untuk Bertemu Wali Kota

ACARA refleksi satu tahun pemerintahan Wali Kota Joko Widodo dan Wakilnya FX Hadi Rudyatmo Sabtu malam lalu diwarnai hujan kritik dari warga. Kegiatan yang digelar di halaman Balai Kota dan dihadiri sekitar 1.500 tamu undangan itu berubah menjadi arena debat terbuka.

Bukan hanya persoalan PKL yang belum tertata yang dikeluhkan, warga yang selama ini kecewa karena sulit menemui Wali Kota juga menumpahkan uneg-unegnya.

''Selama ini untuk menemui Wali Kota sangat sulit. Birokrasinya sangat berbelit padahal itu Wali Kota saya juga,'' ujar Sungkar (45) warga Kedunglumbu, Pasar Kliwon.

Dia secara blak-blakan menyatakan menemui Wali Kota untuk menyampaikan aspirasi bagai sebuah mimpi. Kalau pun ada di kantor, harus antre dengan bawahan Wali Kota yang menunggu sejak pagi.

Menurut dia, sebaiknya birokrasi di Balai Kota dipangkas atau paling tidak diatur jamnya sehingga warga juga kebagian. Misalnya pagi untuk jajaran Pemkot dan siang untuk warga.

Ratna (13) anak putus sekolah warga Sangkrah mengaku beberapa kali kecewa karena gagal bertemu dengan Wali Kota. Padahal dia sudah janjian bertemu untuk menyampaikan aspirasinya.

''Pak Wali sudah saya tunggu tetapi malah pergi,'' ujarnya.

Dia mengatakan banyak anak-anak tetangganya yang putus sekolah sehingga butuh perhatian. Kalau perlu, pendidikan anak-anak seperti itu digratiskan.

Zona PKL

Rudi (35) praktisi periklanan juga angkat bicara. Ia mengeluhkan PKL yang masih ada di beberapa titik. Pemkot diminta harus membuat zona PKL disesuaikan dengan industri periklanan.

''Kalau PKL bisa ditata dan bersinergi dengan reklame, kota akan jadi indah. Kita akui PKL adalah potensi ekonomi yang besar,'' tandasnya.

Selama ini, lanjut dia, papan reklame di Solo seperti tidak tertata. Diharapkan ada wilayah yang nanti diperuntukkan khusus bagi reklame agar tidak menambah semrawut tata kota.

Wali Kota minta maaf soal warganya yang merasa kesulitan bertemu dengannya. Menurut dia, persoalannya bukan karena tidak mau tetapi sering ada tugas yang tak kalah penting.

Soal PKL dia mengatakan Pemkot sudah berkomitmen menata mereka sebagai potensi dan aset. Bagi yang bersedia akan ditata. Namun bagi yang tidak bersedia Pemkot akan bertindak tegas.(Achmad Hussain-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA