logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 PANTURA
Line

Tutus Pebatan sampai ke Luar Jawa

BAMBU dapat dimanfaatkan untuk berbagai bahan baku kebutuhan rumah tangga. Selain untuk bahan bangunan, perangkat meja kursi, pelindung di teras atau pagar, juga bisa diolah menjadi barang lain yang berguna seperti tali bambu yang dikenal dengan tutus.

Bagi sebagian warga Desa Pebatan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, bambu menjadi bahan baku utama kerajinan tutus untuk mengikat bawang merah.

Munculnya kerajinan itu lantaran di sekitar mereka banyak pedagang bawang merah yang membutuhkan barang tersebut. Bahkan, di musim panen seperti sekarang permintaan tutus makin tinggi. Belakangan barang tersebut banyak dipesan pedagang asal Lampung untuk keperluan yang sama.

Salah seorang yang mengeluti kerajinan tersebut adalah Suswanto (35). Bapak empat anak itu mengaku telah menekuni pembuatan tali tutus sejak lima tahun lalu.

Selain untuk memenuhi permintaan lokal, produksinya juga dipasarkan ke Weleri, Majalengka, dan Surabaya. ''Bahkan, saat ini banyak permintaan dari luar Jawa, seperti Medan dan Lampung," katanya, kemarin (30/7).

Tutus asal Pebatan sudah lama menjadi langganan para pedagang. Mereka biasanya membeli secara borongan dalam bentuk ikatan. Satu ikat berisi 100 biji dengan harga Rp 15.000. Pedagang terkadang membeli sekaligus 100 ikat.

Menurut dia, satu batang bambu yang dibeli dengan harga Rp 6.000, setelah dibelah-belah menjadi potongan, kemudian disisik menggunakan pisau, akan menghasilkan satu ikat.

Kehati-hatian Ekstra

Dengan demikian dari satu bambu, dia bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp 9.000. Menurut dia, membuat tutus membutuhkan ketelatenan, dan tingkat kehati-hatian ekstra. Karena, berisiko terkena luka, baik kena gesekan bambu yang tajam atau pisau.

''Untuk membelah-belah bambu supaya tipis menjadi tali juga butuh keahlian tersendiri. Orang biasa mungkin sulit melakukan,'' paparnya.

Tentang bahan baku bambu, Suwanto mendatangkan dari Pemalang dan Slawi.

Jenis yang digunakan adalah bambu khusus yang sudah tua, karena sifatnya yang kuat. Karena kebutuhan sangat banyak, dia mempunyai pedagang yang khusus mengirim.

Di halaman rumahnya, dia mengerjakan kegiatan kerajinan tersebut dibantu empat anak lelakinya. Namun, di saat banyak pesanan dia terpaksa memanggil tetangga untuk membantu.

Menurut dia, dari usaha tersebut dia bisa menghidupi dan membiayai sekolah anak-anaknya. ''Saya makan dari usaha ini. Mau cari kerja apa lagi,'' ujarnya.

Di Desa Pebatan terdapat sekitar 30 perajin, dengan produksi rata-rata tiap perajin mencapai 200 ikat. Pemasaran produksi semula untuk kebutuhan lokal, namun sekarang sudah melebar ke luar Jawa.

Menurut dia, dibanding enam bulan lalu saat ini pesanan kurang begitu banyak. Namun, kata Rosidin, perajin lain, siatuasi akan pulih kembali setelah lewat Agustus, menyusul panen raya bawang merah.(Wahidin Soedja-19)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA