logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 PANTURA
Line

Romeo dan Juliet Dipentaskan di Pendopo

Tak Didukung Tempat dan Properti Memadai

DRAMA Romeo dan Juliet yang dipentaskan oleh mahasiswa Program Studi (Progdi) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Pancasakti (UPS) Kota Tegal, Sabtu (29/7) malam, di Pendopo Ki Gede Sebayu Tegal, dinilai tidak sukses. Hal itu diakui sutradara Sanday Jamaluddin, yang juga mahasiswa Progdi Pendidikan Bahasa Inggris di universitas tersebut.

Menurut Sanday, begitu sapaan mahasiswa yang sebelumnya aktif di Teater ADA (Teater Akademi Bahasa Asing Yogyakarta), pada waktu menempuh program D-3, mengakui kurang siap dalam mementaskan karya William Shakespeare.

"Kami harus mementaskan sekarang (kemarin-red), karena penggunaan pendopo ini cukup padat," ujar dia.

Melihat dari persiapan yang dilakukan, baik dari sisi latihan maupun persiapan properti, lanjut dia, sebenarnya drama tentang percintaan anak dari dua keluarga yang berseteru itu belum layak dipentaskan. Dengan demikian, masih banyak kekurangan yang dilihat penonton pada pementasan dengan durasi yang dipadatkan itu.

Penonton yang menyaksikan dengan "lesehan" itu, kurang dapat menangkap narasi yang disampaikan Nia Kurnianing Widi, yang juga sebagai penata tari. Sebab, narasi dan dialog yang dilakukan pemain menggunakan bahasa Inggris sehingga penonton kurang dapat menangkap pesan yang disampaikan dalam pementasan tersebut.

Sanday mengungkapkan, upaya penggunaan mikrofon untuk narasi, sudah dilakukan. "Ada mikrofon, tapi ternyata tidak bisa digunakan," ujar dia.

Keterbatasan Dana

Selain itu, pergantian satu adegan ke adegan berikutnya, terkesan sangat kaku. Bahkan, sebagian penonton dapat melihat instruksi narator pada setiap ganti adegan dan pengaturan tata lampu.

Penggunaan properti seperti backdrop, dan pendukung setting lainnya, seperti geber, misalnya, dipinjam dari kelompok teater yang ada di Tegal, yakni Teater Q.

"Ada juga yang dipinjam dari orang sunatan," ujar dia, serius-serius santai, seperti karakternya. Kendala yang dialami panitia karena keterbatasan dana dan kurangnya pengalaman yang dimiliki masing-masing pemain.

"Mereka bukan anak teater, tapi dari mahasiswa biasa. Namun demikian, kami optimis, jika latihan lebih lama, minimal tiga bulan, pentas bisa lebih baik," imbuh dia.

Pementasan yang melibatkan sekitar 20 karakter dan terpaksa menghilangkan beberapa karakter seperti dalam naskah asli, disaksikan ratusan siswa dan pemerhati seni. "Kami sebelumnya melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah supaya siswa bisa menikmati pertunjukan. Dari kegiatan ini, sebagian guru sekolah bahkan menugaskan siswa membuat laporan," tutur Sanday. (Siti Kholidah-54)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA