logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 OLAHRAGA
Line

Pressing Ketat Kunci Sukses Persik

SOLO- Pressing ketat dan adu stamina. Faktor itulah yang menjadi kunci sukses Persik Kediri di final Liga Djarum Indonesia 2006 di Stadion Manahan Solo, semalam.

Tim berjuluk Macan Putih itu menang 1-0 atas PSIS Semarang berkat gol Cristian Gonzales menit ke-108. Pelatih Persik, Daniel Roekito mengatakan bahwa stamina prima para pemainnya sangat membantu menjaga konsistensi strategi yang disusunnya.

Taktik dan strategi jitu membuat Harianto dan kawan-kawan meraih gelar juara Liga Indonesia untuk kali kedua.

''Sejak awal pemain saya instruksikan untuk melakukan pressing ketat terhadap pemain lawan. Itu bagian strategi untuk adu stamina. Ternyata stamina pemain lawan terkuras,'' terang pelatih asal Rembang ini.

Dalam pertandingan semalam, terlihat jelas stamina Harianto cs lebih prima daripada Emmanuel de Porras cs. Padahal, sejak babak pertama hingga perpanjangan waktu, mobilitas pemain sangat tinggi. Mereka berlari tak kenal lelah untuk mengejar bola atau melakukan serangan.

''Meski anak-anak tak pernah berhenti menekan, stamina mereka tidak menurun jauh. Hasil ini merupakan kerja keras pemain. Karena itu, saya berterima kasih kepada mereka. Dan juga Persikmania (suporter Persik-red) yang setia mendukung tim selama ini,'' ujar mantan arsitek PSIS itu. Roekito menangis begitu wasit Jimmy Napitupulu meniup peluit akhir dan memastikan timnya juara.

Motivasi Tinggi

Disinggung tentang permainan Mahesa Jenar, Daniel mengakui pasukan Bonggo Pribadi ini punya motivasi dan semangat tanding yang tinggi.

Hal itu tidak lepas dari dukungan suporter Panser Biru dan Snex. Kondisi seperti itu sangat menyulitkan permainan timnya.

''PSIS main luar biasa malam ini. Mereka punya kerja sama solid,'' ujarnya.

Sementara itu, Manajer Tim Iwan Budianto juga menyatakan permainan Porras cs tidak kalah dari Harianto dan kawan-kawan. Tampilnya pemain belakang Mahesa Jenar Zoubairou yang di beberapa pertandingan delapan besar dan semifinal tidak diturunkan lantaran cedera otot paha kanan, menjadi keuntungan sendiri bagi tim kota Atlas itu. Lini belakang menjadi lebih kokoh dan sulit ditembus.

''Kehadiran Zoubairou sangat menyulitkan kami,'' tutur Iwan seusai pertandingan.

Sebagai juara, Iwan tidak akan cepat berpuas diri. Kekurangan dan kelemahan tim yang ada musim ini akan segera dibenahi.

Skuad tim akan dipertahankan, ditambah beberapa pemain yang bisa membangkitkan semangat dan motivasi pemain lain sesuai dengan karakter tim.

''Saya tidak tahu, apakah juara ini merupakan prestasi atau kutukan. Sebab, biasanya tim juara akan terseok-seok musim depan. Bahkan, ada yang terdegradasi. Karena itu kami harus mempersiapkan tim sebaik mungkin untuk musim depan agar juara ini tidak jadi kutukan,'' tandasnya. (H13,P44,D11,F3-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA