| Senin, 31 Juli 2006 | WACANA |
Surat PembacaKarcis Rawat Jalan RS Dr KariadiTanggal 21 Juli 2006, saya memeriksakan anak di ruang UGD RS dr Kariadi Semarang. Hasil diagnosa dokter, dia harus segera mendapatkan bantuan pernapasan (diberi nebulizer) karena menderita batuk disertai sesak napas. Penanganan sejak masuk sampai anak saya pulang, sangat baik. Ramah, simpatik, profesional dan rasanya ada kedekatan empatik oleh semua petugas yang ada, baik dokter maupun perawatnya. Ini pengalaman saya kali pertama menggunakan jasa RS Dr Kariadi. Saya yakin jika aset SDM yang paling berharga ini menjadi landasan utama, maka semua pasien akan merasakan kenyamanan psikis yang pada gilirannya akan mempercepat proses penyembuhan. Namun, ada sedikit masukan yang perlu saya sampaikan. Pertama, petugas instalasi rawat jalan kurang membantu (mengarahkan) saya untuk langsung menuju pemeriksaan di ruang UGD. Padahal pada saat mendaftar sudah saya sertakan surat rujukan dari dokter, sehingga harus membayar dua kali. Yaitu membayar karcis di ruang pemeriksaan rawat jalan dan di ruang UGD (ini mungkin kesalahan saya juga, karena ketidaktahuan). Kedua, dalam karcis instalasi rawat jalan, tertera nilai nominalnya Rp 10.000, (fotokopi terlampir) tetapi mengapa di kolom sampingnya ada cap/stempel Rp12.500 sehingga pasien akhirnya harus membayar sejumlah itu. Bisakah cap/stempel membatalkan nilai nominal resmi yang tercantum di karcis (Rp10.000). Jika tarif resmi Rp12.500, mengapa pihak manajemen membiarkan karcis dengan nilai nominal Rp10.000, tetap beredar. Mohon penjelasan. Suprayitno (EI) Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang *** Tata Ruang dan Kawasan Sekaran Saat ini kawasan Sekaran Gunungpati, Semarang telah berubah menjadi mesin pencetak uang mulai dari pinggir jalan sampai pelosok. Padahal 10 tahun silam, kawasan ini masih terisolasi dari pusat ekonomi. Tumbuhberkembangnya ekonomi masyarakat diduga kuat sejak masuknya kampus IKIP (kini Unnes) pada tahun 1990-an. Jumlah penduduk Sekaran 2.518 jiwa (Monografi Sekaran, 2006), ditambah mahasiswa Unnes 20.686 jiwa seakan-akan telah menjadi daya tarik tersendiri untuk menggaet pedagang lokal dan nasional berinvestasi. Bersamaan dengan geliat perkembangan ekonomi yang makin melaju ternyata menorehkan permasalahan lingkungan. Desain tata ruang dan rencana strategis pembangunan kawasan Sekaran sampai saat ini tidak pernah terdengar. Sehingga tidak tersedia trotoar, jalan sempit, selokan tidak memadai, tidak ada lampu penerang jalan dan bangunan liar di sepanjang jalan. Juga kualitas air rendah serta hilangnya kawasan hijau dan lahan serapan air. Sementara itu jam operasi angkot terbatas, jumlah halte tidak memadai, bangunan kos-kosan tidak standar dan kelangkaan sarana sosial. Lebih ironisnya lagi belum tersedianya tempat pembuangan sampah. Memang letak geografis kawasan Sekaran yang jauh dari pusat pemerintahan, kerapkali tidak menjadi daya tarik media. Namun apakah kawasan yang mampu menopang ekonomi Provinsi Jateng dengan perputaran uang sekitar Rp 6.961.200.000 (baca: MP, 2006), harus menanggung sendiri berbagai permasalahan ?. Tentunya pihak pemerintah pusat, daerah, investor, masyarakat dan mahasiswa peka. Jangan sampai kondisi ini makin parah karena tidak ada desain tata ruang dan renstra. Suhadi Wisma Transformatif Gg Nangka 50 Sekaran Gunungpagi, Semarang *** Kembalikan Banjarsari sebagai Taman Saya setuju SMS Sugeng Enjing di SM belum lama ini yaitu mengembalikan Banjarsari yang dulu pernah bernama Villa Park menjadi taman kota. Sejak 50 tahun lalu Banjarsari jadi tempat saya bermain, bal-balan, gandhulan, lari-lari. Juga simbah dan engkong jalan-jalan bareng, duduk atau dhedhe sinar matahari pagi bareng sambil ngobrol. Suasana sungguh rukun dan damai, lokasinya bersih, hijau dan indah. Imbauan saya, demi menghemat APBD yang selalu mepet, Pemkot perlu merangkul para pengusaha untuk mengelola 4 lahan hijau itu menadi taman. Misal di barat taman BCA, di utara depan kantor Pos Pembantu yaitu taman Mandiri. Kemudian sebelah timur depan lapangan tenis yaitu taman BRI serta di selatan taman Sritex atau siapa pun perusahaan yang peduli dan bersedia. Para pengelola harus membangun taman dan rumput hijau yang indah. Kalau perlu ada petugas sehari penuh dan satpam untuk menjaga ketertiban. Pedagang makanan kecil dilarang masuk. Sebab bila diizinkan masuk satu, yang lain nimbrung sehingga lokasi menjadi kotor, semrawut tidak indah. Pengunjung biar membawa makan/minum sendiri, tinggal disediakan tempat sampah. Parkir di sekeliling jalan, di kanan jalan sebab kalau di kiri jalan mengganggu penghuni. Sedang jalan di tengah menuju monumen, khusus untuk jalan kaki, lari-lari dan mainan anak. Semoga bisa terlaksana untuk mengurangi Manahan yang makin sumpek. H Erlangga Chandra (EI) Ngalian Rt 8/Rw 2 Bendan Banyudono, Boyolali *** Penulis Pemula Suatu kesulitan tersendiri bagi penulis pemula untuk menyampaikan ide/gagasan ke media mengenai hal yang hangat diperbincangkan umum. Di samping miskin analisa dan kurangnya kekritisan penulis amatir dalam membedah masalah, juga aspek kepopularitasan penulisnya sering membuat redaktur berpikir seribu kali untuk menerbitkan. Akibatnya betapa pun bagus tulisan dan memikat, tetapi karena "orang" itu baru kali pertama "nongol" di media cetak membuat pembaca perlu berpikir. Pasalnya, kredibilitas dan kapabilitasnya masih diragukan. Entah benar atau tidak, dari pihak media sendiri sering hanya mau menerima/menerbitkan tulisan dari mereka yang sudah punya popularitas. Ternyata mekanisme seperti itu bisa berdampak signifikan psikologi penulis amatir ketika tulisannya tidak diterbitkan. Dia merasa lebih termotivasi untuk terus berkarya. Pada dasarnya menerbitkan sebuah tulisan bagi media berarti memberikan semacam wacana kepada masyarakat mengenai masalah yang dibahas. Sehingga kalau terdapat tidak validnya informasi tentu membuat masyarakat bingung. Apalagi kalau tulisannya mengandung unsur provokasi yang ujung-ujungnya masyarakat tidak mau lagi mengonsumsi suguhan yang disajikan media tersebut Kalau memang seperti itu, mungkin saatnya kini perlu ada semacam komunitas, misal mereka yang sudah andal dan profesional dalam menulis mau peduli dan tanggap terhadap para penulis pemula. Misal dalam wujud pelatihan yang melibatkan pelajar SMA/sederjat agar bangsa ini tidak miskin penerus perjuangan. Yahya Abraham Penagon Rt 4/Rw 6 Nalumsari, Jepara *** Anarkis Hampir setiap hari kita disuguhi berita anarkis. Orang mudah sekali ngamuk, merusak dan membunuh bila tidak setuju dengan sesuatu. Apakah mereka tidak berpikir panjang bahwa tidak semua harus sama atau harus setuju. Berbeda, sebenarnya indah bila kita menyadarinya. Indonesia negara hukum jadi tidak bisa berbuat seenaknya, "pokoke aku". Kita semua tahu, dasar negara kita adalah Pancasila. Jadi tidak sepantasnya terjadi baku hantam, bakar-membakar, bukankah semua itu hanya akan merugikan semua juga. Sebagai bangsa yang beradab hendaknya dapat menahan diri, lebih santun dalam bertindak, saling menghormati, gunakan akal juga pikiran, tidak hanya main otot. Sungguh memprihatinkan keadaan bangsa ini. Sudah melarat, tidak kompak hingga pasti para pahlawan sedih melihat kondisi bangsa sekarang. Mari semua introspeksi, perbaiki dulu dari dalam diri masing-masing, baru ke orang lain dengan tetap bertakrama. Sadari apa artinya aktif di bidang agama bila kelakuannya merugikan orang lain. Hendaknya kita lebih arif bijaksana menanggapi sesuatu yang baru, jangan main hantam, bakar, bunuh. Saya bukan menggurui tetapi sudah sangat risih menyaksikan kejadian yang main hakim sendiri, bukankah orang hidup ada aturannya. Semaju apa pun zaman, budi pekerti tetap penting bagi manusia. M Erni Wuryanti Puri Sartika Blok A/162 Semarang |