logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 WACANA
Line

Pendidikan Alternatif Tingkatkan Kecerdasan

  • Oleh RB Yoga Kuswandono

DUNIA pendidikan sekarang dapat dikatakan masih menjalani pola trial and error atau coba-coba untuk menemukan satu metode yang cocok dan dapat diterapkan buat siswa sekolah dasar sampai sekolah menengah umum. Dalam hal ini, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan salah satu bentuknya.

Sebenarnya sistem kurikulum baru tersebut sangat ideal dan cocok untuk diterapkan namun dalam pelaksanaannya masih banyak kelemahan yang dijumpai. Kurangnya pemahaman guru dan murid tentang KBK memunculkan adanya kekaburan metode ini.

Banyaknya tugas yang menyebabkan tingginya tingkat stres pada siswa, dan ketidakjelasan tentang perkembangan studi anak secara kalkulatif menjadi permasalahan utama yang patut diberi perhatian mendalam.

Karena itu pemerintah mulai merencanakan kurikulum pengganti. Metode seperti apakah yang sebenarnya efektif dan praktis untuk dilaksanakan? Seiring dengan perkembangan zaman, ternyata telah ditemukan metode baru yang terus dikembangkan hingga sekarang di Amerika.

Bobbi DePorter adalah orang yang pertama kali merintis didirikannya supercamp yaitu program pembelajaran dan pelatihan bagi siswa agar kecerdasannya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Supercamp menggabungkan Neuro Linguistik Programming (NLP), sugestologi, accelerated learning (teori pemercepatan belajar), dan beberapa metode yang diciptakan sendiri oleh Bobbi DePorter.

Neuro Linguistik Programming adalah pemrograman bahasa syaraf yang mencoba menggabungkan kekuatan otak kiri dan kanan serta pikiran bawah sadar agar seseorang dapat menyerap segala informasi dan belajar hal-hal baru dengan cepat.

Gelombang otak dibagi menjadi empat yaitu alpha, tetha, beta, dan delta. Alpha adalah kondisi saat otak kita benar-benar jernih dan berada pada satu titik sempurna untuk mengingat dan memahami segala sesuatu.

Tetha adalah keadaan saat kita tidur tetapi bermimpi sehingga mata kita bergetar lebih cepat dari biasanya. Dalam istilah psikologi dan kedokteran biasa disebut dengan REM (Rapid Eye Movement) dan di sinilah tubuh melakukan penyembuhan fisik dan mental secara alami.

Beta terjadi saat kita sedang melakukan aktivitas yang menuntut konsentrasi terpecah seperti saat mengendarai mobil. Sedangkan yang terakhir adalah delta yang berlangsung saat otak istirahat penuh yaitu waktu kita tidur dan tidak bermimpi sama sekali.

Belajar Seperti Bayi

Sasaran NLP adalah peningkatan penggunaan gelombang alpha dengan menggunakan teknik relaksasi, perbaikan citra diri, berkata positif pada diri sendiri. Accelerated Learning mengasumsikan kita perlu kembali lagi belajar seperti bayi. Saat itu seluruh indra dipakai dan dimanfaatkan penuh untuk mengenali semua yang ada di lingkungannya.

Gaya belajar SAVI (penggunaan keterampilan Somatis, Audio, Visual, dan Intelektual) menjadi poin penting yang perlu diketahui agar pembelajaran berjalan maksimal. Bobbi merangkum keseluruhan unsur itu dengan mengemasnya menjadi satu paket program terpadu.

Terbukti cara itu akhirnya berhasil. Beberapa siswa bahkan mengaku nilainya melonjak pesat semenjak menjalani supercamp. Hal itu terus berlangsung sampai sekarang.

Di Indonesia pola seperti itu juga dapat diterapkan dengan sedikit penyesuaian. Kemudian ditambah sesi-sesi pelatihan awal untuk mempersiapkan siswa mengikutinya. Satu metode baru yang dapat dijadikan alternatif yaitu SoulBrain Approach Program.

Spirit dasar dari SoulBrain adalah menjadikan kecerdasan intelektual bukan sebagai keperluan utama bagi siswa. Ada beberapa paket dalam Soulbrain yang diperuntukkan bagi siswa SD, SLTP, SMU, serta mahasiswa perguruan tinggi dengan porsi dan muatan yang berbeda.

Program SoulBrain yang dibahas di sini adalah untuk siswa SMU. Pada teori tugas perkembangan, remaja SMU masuk dalam masa remaja tengah, yang kondisi emosionalnya masih belum stabil. Mereka juga mulai mempertanyakan eksistensi dirinya, dan aktif mencari hal-hal baru sebagai sarana untuk membuktikan dirinya dapat diakui di masyarakat.

Berada di Alam Bebas

Ada tiga fase besar digunakan di sini. Fase pertama dinamakan Challenge SoulBrain. Selama dua hari mereka diajak untuk berada di alam bebas (boleh di sekitar lokasi sekolah atau di luar sekolah). Mereka disadarkan sebagai bagian dari lingkungan, ajaklah untuk melihat pencemaran yang terjadi.

Mereka diharuskan dapat melakukan sesuatu (tentunya tidak harus saat itu juga) sebagai respon terhadap masalah itu. Kemudian disajikan berbagai permainan yang menantang fisik (outbond dan lainnya) tidak peduli mereka berhasil atau tidak melewati permainan demi permainan yang diberikan.

Tanamkan pada dirinya bahwa sebenarnya tidak ada yang tidak bisa dilakukan asal ada kemauan dan usaha keras walaupun hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi pengalaman pada saat melakukannya dapat menjadi pelajaran berharga untuk digunakan di kemudian hari.

Dibuat kelompok-kelompok kecil dan diciptakan iklim kompetitif dan kerjasama. Ini berguna untuk melatih dan mengembangkan semangat bekerjasama dalam tim. Sistem evaluasi hasil kerja tim lewat diskusi kelompok.

Pada hari kedua, siswa diberi tugas turun ke pasar untuk ikut terlibat dalam aktivitas di dalamnya, seperti berjualan sayur, baju, dan lainnya atau ke panti asuhan cacat ganda. Berikan denah lokasi tempat yang hendak dituju dan uang saku secukupnya.

Uang saku itu diserahkan kepada ketua kelompok dan diatur secara cermat supaya cukup untuk ongkos pulang-pergi dan minum. Waktu yang disediakan kurang lebih dua jam. Ini bertujuan agar siswa semakin peduli dengan keadaan sosial di sekitarnya dan bersyukur atas apa yang mereka dapatkan.

Setelah itu evaluasi lagi dengan cara yang sama. Challenge SoulBrain ditutup dengan refleksi singkat. Berupa evaluasi dan saling membagikan kesan-kesannya selama dua hari.

Fase kedua adalah Spirituality SoulBrain. Pemulihan dari pengalaman trauma dan luka batin serta penetapan tujuan ke depan menjadi fokus utama pelatihan ini.

Ada cara-cara praktis yang sebenarnya dapat dilakukan oleh orang awam selain psikolog sehingga guru-guru pembimbing dapat mempraktikkannya dengan mudah.

Fase ketiga adalah Academic SoulBrain. Fase ini ingin memadukan semua jenis gaya belajar baik itu somatis, audio, visual, dan intelektual. Asumsi ini mengumpamakan jika kita kembali lagi pada cara belajar waktu masih balita.

Mengenali Karakteristik

Lingkungan

Seperti diketahui balita belajar beberapa tugas penting yaitu berjalan, berbicara, makan buang air kecil dan besar, dan mengenali karakteristik lingkungan dalam waktu kurang lebih dua tahun. Bandingkan dengan remaja dan orang dewasa yang rata-rata memerlukan waktu bertahun-tahun hanya untuk mempelajari bahasa Inggris (SLTP 3 tahun, SMU 3 tahun, belum termasuk kursus di lembaga-lembaga pusat pendidikan bahasa Inggris).

Kenapa demikian? Karena balita belajar segala sesuatu dengan menyentuh, meraba, bahkan memukul-mukul suatu benda dengan benda yang lain (somatis), melihat (visual), mendengar (audio), dan akhirnya dengan mempergunakan itu dapat memahami dengan cepat (intelektual).

Minat juga selalu menyertai proses itu, karena semuanya dipelajari dengan riang tanpa ada sedikit pun perasaan bersalah dan malu. Sayangnya segala bentuk minat dan keriangan itu ditekan semenjak mereka bersekolah.

Ada satu peristiwa yang sebagian besar orang pasti mengalaminya. Mungkin masih jelas dalam ingatan kita bagaimana ketika dalam satu pelajaran guru bertanya dan kita menjawab dengan semangat tetapi kemudian jawaban itu salah dan kita ditertawakan oleh teman sekelas. Atau saat gambar kita dikatakan jelek dan diberi nilai yang tidak memuaskan.

Semua kejadian itu akan tersimpan dengan sangat baik dalam pikiran bawah sadar lalu membuat kita semakin menekan minat belajar yang dulu tinggi, membuat beberapa hal yang dulu disukai enggan dilakukan karena merasa malu bila nanti ditertawakan.

Melalui relaksasi dan melatih berbicara secara positif pada diri sendiri sebelum mulai pelajaran, siswa merasa nyaman dan siap untuk menyerap informasi yang hendak diberikan. Setelah itu sesekali adakan satu proses pembelajaran interaktif, siswa disuguhkan permainan interaktif dan memiliki kesempatan untuk menata ruang kelas sesuka mereka , membuat simbol-simbol tentang segala sesuatu yang hendak dipelajari.

Kegiatan semacam itu akan memberikan variasi baru untuk mereka setelah beberapa hari mengikuti pendidikan di kelas dengan sistem formal. Akhirnya diharapkan dapat meningkatkan minat belajar mereka dan kekuatan otak mereka untuk mengetahui segala sesuatunya dengan cepat. (11)

- Rb Yoga Kuswandono, ketua SoulBrain Personality Development Center Semarang, mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA