logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 WACANA
Line

Menimbang Daya Saing Perguruan Tinggi

  • Oleh Nugroho

Tidak kalah pentingnya dari kesehatan finansial, kesehatan iklim akademik di kampus juga merupakan faktor penentu keunggulan daya saing. Jika iklim akademik tidak sehat iklim ilmiah di kampus menjadi terganggu.

MUSIM perburuan perguruan tinggi telah tiba. Lulusan SMA dan SMK berbondong-bondong berebut bangku perguruan tinggi. Sebanyak 90 ribu bangku di PTN diperebutkan oleh sekitar 319 ribu calon mahasiswa melalui jalur SPMB.

Namun di sisi lain data menunjukkan lulusan perguruan tinggi justru potensial menjadi pengangguran kota. Data Sakernas (2004) menunjukkan lulusan D1 dan D2 73.2 % menjadi pengangguran, lulusan D3 (83.6 %) dan lulusan S1 (81.4 %). Data ini menunjukkan betapa jauh kesenjangan antara harapan menjadi orang sukses dan kenyataan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh peluang untuk menjadi pengangguran terdidik lebih besar.

Selanjutnya data Sakernas (2004) juga menunjukkan hanya 5,1 % lulusan D1 dan D2 yang mampu membuka usaha mandiri, sementara lulusan D3 yang mampu membuka usaha mandiri 6,3 % dan S1 hanya 5,8 %. Sebagian besar lulusan akademi dan perguruan tinggi memang menjadi buruh atau karyawan.

Data di atas menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan kecenderungan untuk bekerja secara mandiri semakin rendah. Nampaknya ada kecenderungan mereka menempuh pendidikan tinggi untuk bisa masuk menjadi karyawan di perusahaan besar. Pertanyaannya apa yang dilakukan perguruan tinggi kita sehingga sebagian besar lulusannya cenderung menjadi pengangguran terdidik?

Potret Buram

Buruknya mutu lulusan tidak lepas dari kondisi obyektif perguruan tinggi itu sendiri. Secara umum kondisi obyektif perguruan tinggi di Indonesia memang masih jauh dari mutu yang ideal. Hasil temuan Asiaweek 2000 menunjukkan daya saing perguruan tinggi di Indonesia rendah. Sangat sedikit perguruan tinggi yang mampu masuk kategori 20 besar di kawasan Asia.

Rendahnya mutu lulusan bagaimanapun tidak terlepas dari kondisi obyektif kinerja perguruan tinggi saat ini. Perguruan tinggi saat ini menampilkan perilaku yang tidak ubahnya seperti perilaku pedagang kaki lima. Hanya melayani selera pasar tanpa mempedulikan tugas utamanya sebagai institusi yang mengajarkan kebenaran, menemukan kebenaran, membangun nilai-nilai baru. Tiga tugas luhur itu sudah lama ditinggalkan perguruan tinggi kita.

Mereka kini menampilkan sosok sebagai insitusi pedagang kaki lima yang terus membuka jurusan baru, program studi baru sesuai dengan fluktuasi kebutuhan pasar. Dalam membuka program studi baru sering tidak dibarengi sarana prasarana, kualifikasi dosen, laboratorium dan perpustakaan serta minim. Akibatnya jelas fatal meskipun secara nasional kini kita memiliki 82 PTN dengan 3051 program studi dan 2561 PTS dengan 10287 program studi ternyata sangat sedikit program studi yang bermutu.

Semua itu terjadi lantaran perguruan tinggi telah mengabaikan tugas utamanya. Kondisi di Jateng juga tidak jauh berbeda. Di luar STAIN dan IAIN Jateng memiliki 6 PTN dengan 307 program studi dan 222 PTS yang menaungi 979 program studi. Namun yang benar-benar eksis dan bermutu sangat minim.

Jika dicermati strategi membuka program studi baru bukanlah ditujukan untuk melaksanakan amanat perguruan tinggi. Tujuan sesungguhnya hanyalah untuk tetap menggaet mahasiswa dalam jumlah besar. Dalam kondisi demikian manajemen tidak bicara mutu dan keahlian. Maka jangan heran jika masyarakat tertipu hanya sekadar mendapat pepesan kosong dari judul prodi atau jurusan yang ditawarkan.

Perguruan tinggi juga banyak yang berpraktik sebagai kelas asongan yang mendekati konsumen di lokasi potensial dengan membuka kelas jauh. Selain itu membuka pula kelas weekend, kuliah eksekutif Sabtu-Minggu.Dalam kondisi semacam itu jangan lagi bicara tentang daya saing perguruan tinggi.

Kronis

Buruknya kinerja dan daya saing tidak lepas dari derajat kesehatan organisasi perguruan tinggi. Organizational Healthy adalah suatu kondisi di mana perguruan tinggi sebagai suatu entitas organisasi berada dalam kondisi yang sehat secara finansial, iklim akademik dan orientasi masa depan. Jika secara finansial tidak sehat akan kesulitan menyediakan berbagai logistik yang diperlukan untuk menopang kelancaran kegiatan akademik. Persoalan kesehatan organisasi dari perspektif finansial ini cukup pelik karena sebagian besar masih tergantung dari subsidi pemerintah (PTN) dan pungutan SPP mahasiswa (PTS).

Tidak kalah pentingnya dari kesehatan finansial, kesehatan iklim akademik di kampus juga merupakan faktor penentu keunggulan daya saing. Jika iklim akademik tidak sehat iklim ilmiah di kampus menjadi terganggu.

Daya saing suatu dapat ditingkatkan melalui perubahan arah dan orientasi masa depan. Hampir semua perguruan tinggi masih berorientasi sebagai ''perguruan tinggi tukang mengajar'' yang tentu saja kegiatan rutinya hanyalah transfers of knowledge dengan proses belajar tatap muka dengan kualitas pembelajaran ala kadarnya. Oleh karena itu sumber pendapatan adalah uang SPP, SPI, BMOM dan sejenisnya yang intinya sebetulnya adalah pemerasan kepada mahasiswa. Sangat klasik dan hal itu sama sekali tidak mencerminkan perguruan tinggi institusi pordusen ilmu pengatahuan dan keahlian. Dengan demikian seharusnya sumber pendapatannya adalah menjual produk berupa ilmu pengetahuan dan segala bentuk aplikasi mutakhir yang bisa dihasilkan dosen dan mahasiswa. Juga berbagai jasa pelatihan yang berhasil mereka kembangkan. Pada teaching learning university aktivitas utamaya memang mengajar. Oleh karena itu kebanyakan perguruan tinggi getol menyelenggarakan kelas jauh, kelas paralel, kelas eksekutif dan sejenisnya yang intinya melulu jualan jasa proses pembelajaran tingkat rendah. Bukan proses pengembangan dan penemuan ilmu-ilmu baru.

Kondisi semacam ini sudah puluhan tahun dilakoni.

Hasilnya kita sama-sama tahu kalau semakin lama bukan kemajuan yang mereka dapat melainkan kondisi stagnan hanya sebagai jualan jasa pembelajaran. Ke depan harus berani menanggalkan kredonya sebagai teaching learning university menjadi research university. Pada tahap research university ini aktivitas utama dosen dan mahasiswa sudah masuk kancah lapangan atau laboratorium riset untuk penemuan, pengembangan dan produksi ilmu pengetahuan. Dari aktivitas inilah perguruan tinggi mendapatkan sumberdana dari paten yang dihasilkan dosennya. Semakin bagus riset dilakukan dan semakin banyak paten yang dihasilkan akan semakin kaya dosen dan perguruannya. Kalaupun belum mampu menghasilkan paten, riset-riset yang datang dari pihak rekanan sesungguhnya sudah cukup untuk meningkatkan kesejahteraan. Inilah yang semestinya dilakukan untuk mencapai daya saing yang kuat.

Sisi lain yang juga menjadi kelemahan adalah minimnya kemampuan menjalin kerja sama dalam konteks global. Sekarang ini membangun jejaring kerja sama antarlintas institusi sudah menjadi suatu keharusan. Di sisi lain jaringan kerja sama dapat mengangkat citra.(14)

- Dr Nugroho MPSi, Sekretaris Dewan Riset Daerah Jawa Tengah, dosen Unnes


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA