| Senin, 31 Juli 2006 | NASIONAL |
Tradisi Jawa Masih Hidup di SultraKLENENGAN mat-matan Bandhem Alit mengalun dari peranti sound system ketika para anggota Kafilah Jateng memasuki ruang pertemuan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Tenggara (Sultra), yang terletak di Jl Abu Nawas Kota Kendari, Minggu (30/7) pagi. Hari itu diagendakan temu kangen Gubernur Mardiyanto dengan warga asal Jateng, yang tinggal di Bumi Anoa tersebut. Rupanya, klenengan merupakan klangenan bagi warga yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ) itu. Irama yang dibangun oleh harmonisasi musik gamelan bisa mengobati kerinduan kepada tanah asal atau kelahiran mereka. "Walaupun telah tinggal di sini (Sultra-Red) selama belasan atau duapuluh tahun lebih, sebagian besar warga asal Jawa, termasuk Jateng, memang masih memelihara tradisi Jawa," cerita Sayid Munandar (58). Warga asal Baluwarti, Surakarta, itu sudah tinggal di Sultra sejak 1980-an. Dia berpindah tempat, karena penugasan dari Dinas Peternakan. Diceritakannya, dari slametan hingga wayangan masih hidup dalam sanubari wong Jawa di Sultra. Persoalannya, kata dia, pengetahuan tentang tradisi dan budaya Jawa itu relatif hanya terpelihara di kalangan orang-orang tua. "Karena itu, sangat diperlukan adanya transfer pengetahuan tentang budaya Jawa. Mungkin bisa lewat media kecil, semacam kalender atau brosur," kata dia. Harapan itu tak cuma diutarakan Sayid, Ketua KKJ, Ir Imam Subagyo, pun setali tiga uang. Dia menceritakan, warga Sultra asal Jateng begitu merindukan suasana keguyuban kebudayaan Jawa di tempat tinggal mereka. Maka, ketika deklarasi KKJ, April lalu, mereka sengaja nanggap wayang dengan dalang Ki Anom Suroto. "Gubernur Sultra, Ali Mazi SH, membelikan seperangkat gamelan, pelog dan slendro, yang bisa untuk tamba kangen," tutur dia. Mereka berharap, Gubernur Mardiyanto bisa membantu memfasilitasi niat mereka nguri-uri kabudayan. Semula, hal itu tidak bisa disampaikan langsung kepada Gubernur, yang tidak bisa mengikuti temu kangen itu sejak awal, karena menghadiri acara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Aspirasi itu hanya disampaikan kepada anggota DPR RI, Drs KH Ahmad Darodji MSi, Kepala Biro Kesra, Drs H Ateng Chozany Miftah MSi, Kakanwil Depag Jateng Drs HM Masyhudi MM; anggota DPRD Jateng Drs H Noor Achmad MA, serta Rektor IAIN Walisongo, Prof Dr H Abdul Djamil MA. Kenangan Untunglah, pada penghujung pertemuan, Gubernur Mardiyanto bisa hadir dan menuntaskan kangen kepada warga Sultra asal Jateng. Terlebih, bagi Sumitro (78), yang terakhir bertemu Mardiyanto pada 1985. Penting diketahui, Mardiyanto -ketika itu berpangkat letnan kolonel- pernah lama bertugas sebagai komandan Batalyon 725 Boro-boro, Sultra. "Sultra menyimpan banyak kenangan bagi saya. Banyak cerita lucu atau bahkan konyol yang saya alami di sini. Begitu juga, banyak orang yang saya kenal dengan baik. Oiya, terakhir bertemu Pak Mitro 21 tahun lalu, ya Pak?" ungkap Gubernur, yang segera diiyakan Sumitro. Kepada warga asal Jateng, Gubernur menceritakan kisah-kisah yang selalu dikenangnya selama bertugas di Sultra. Sesekali, hadirin terpingkal-pingkal oleh kelucuan atau kekonyolan cerita Gubernur. "Pengalaman itu memberikan pelajaran kepada saya, di mana pun berada asal bisa membawa diri pasti akan diterima," imbuhnya. Gubernur meminta agar warga Jateng di Sultra bisa menunjukkan etos kerja dan kemauan bekerja keras. Sebab, mereka merupakan cerminan dan menjadi tolok ukur untuk menilai warga Jateng. Kalau hal itu bisa diwujudkan, maka warga asal Jateng akan menjadi contoh teladan bagi yang lainnya. "Nah, kalau untuk tamba kangen, saya sampaikan satu paket CD. Ada yang berisi campursari dan ada pula yang berisi lagu-lagu nasional," ujarnya. (Achiar M Permana-41h) |