logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 NASIONAL
Line

Rakyat Jangan Dikorbankan

JAKARTA - Ledakan di sumur minyak Sukowati, Bojonegoro, merupakan kejadian yang sudah diperhitungkan, sehingga relatif lebih cepat dan mudah ditangani. Yang terpenting dari kejadian ini adalah rakyat jangan dikorbankan. Dengan demikian perlu diambil langkah penyelesaian yang terbaik.

Demikian kesimpulan dari pendapat anggota Komisi VII DPR RI Alvin Lie dan Ramson S.

Menurut Alvin, bila dibandingkan dengan semburan lumpur pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas di Porong Sidoarjo, ledakan akibat gas kick di sumur Sukowati penanganannya lebih cepat, karena Pertamina-Petro China East Java (PPEJ) lebih siap.

''Mereka siap 24 jam termasuk juga tenaga ahlinya, ini yang lebih baik dibandingkan yang terjadi di Lapindo,'' kata Alvin menjawab Suara Merdeka, semalam.

Mudah Ditutup

Menurut Ramson, ledakan yang terjadi di Bojonegoro juga masuk kategori yang mudah 'ditutup' dan kondisinya tidak serumit sumur Lapindo di Porong. Namun yang terpenting adalah penanganan bagi rakyat di sekitar lokasi ledakan.

''Yang terpenting rakyat jangan dikorbankan, harus ada penyelesaian yang baik. Kedua perusahaan (Pertamina-PetroChina-Red) harus bertanggung jawab dan ada reaksi cepat,'' tegasnya.

Menurut dia, bila tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan trauma di kalangan masyarakat, yang pada akhirnya akan mengganggu kelanjutan proyek vital tersebut.

Mengenai rakyat di sekitar lokasi pengeboran, Alvin mempertanyakan apakah mereka sudah berada di zona jarak aman. Karena bila jaraknya tidak aman, mereka akan rentan tertimpa dampak dari proses pengeboran itu. Karena ledakan seperti ini bisa terjadi sewaktu-waktu.

''Kita perlu menanyakan apakah mereka sudah dalam jarak aman. Bagaimana konsep awalnya tentang lokasi pengeboran dan permukiman penduduk. Kalau memang Amdal awalnya aman, lalu masyarakat dari luarlah yang datang dan mendekati lokasi, ya kita pertanyakan mengapa aturan tidak ditegakkan dengan tegas,'' ujar dia.

Ditanggung Pengelola

Menurut politikus asal Semarang tersebut, rakyat harus diberi informasi jelas sehingga mereka tidak lagi terlanggar hak-haknya dan sebaliknya mereka tidak melanggar aturan berkaitan dengan letak proyek-proyek yang strategis.

Dalam konferensi pers, kemarin, Pertamina menyampaikan permintaan maaf terhadap masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar lokasi sumur Sukowati.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Manajer Operasi Joint Operating Body Pertamina-Petro China East Java (PPEJ), Hermawan B Mihardja.

Hermawan juga memastikan bahwa biaya perawatan warga sekitar sumur Sukowati akan ditanggung seluruhnya oleh pengelola Sukowati yaitu PPEJ. Menurutnya, penyebab ledakan itu adalah gas kick pada kedalaman lebih dari 6.000 kaki.

Ada lima sumur (termasuk yang meledak) di Sukowati. Salah satunya tidak beroperasi, sedangkan yang sudah beroperasi ada tiga sumur dengan produksi 11.500 barrel perharinya. Adapun sumur yang meledak kemarin baru dibor pada 22 Juni lalu. (F4-23v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA